
Kasdam III/Siliwangi Brigjen TNI Agus Bhakti dalam diskusi dan bedah buku berjudul Perang Kognitif, Eskalasi Digital, Demonstrasi dan Demokrasi Indonesia 2025 di Unpad pada Jumat (16/10). (Istimewa)
JawaPos.com - Kepala Staf Kodam (Kasdam) III/Siliwangi Brigjen TNI Agus Bhakti mengungkap dimensi perang kognitif dalam peperangan modern. Dia menekankan kembali, perang kognitif menyasar cara berpikir manusia. Maka antisipasinya tidak sama seperti perang konvensional.
Hal itu diungkap dalam diskusi dan bedah buku berjudul Perang Kognitif, Eskalasi Digital, Demonstrasi dan Demokrasi Indonesia 2025 yang diselenggarakan oleh Program Studi Transcultural dan Ilmu Politik FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad) pada Jumat (16/10).
Dalam kesempatan itu, Brigjen Agus sebagai penulis buku tersebut menjelaskan perkembangan paradigma peperangan dari generasi pertama sampai generasi keenam. Dia menekankan, peperangan modern tidak hanya berlangsung pada domain darat, laut, udara, antariksa, dan siber.
Peperangan modern, kata Agus, melibatkan dimensi kognitif yang berkaitan dengan proses berpikir manusia. Jika perang siber berfokus pada peretasan infrastruktur perangkat keras dan perangkat lunak, perang kognitif berupaya memengaruhi perhatian, persepsi, penilaian, dan pengambilan keputusan manusia.
”Domain kognitif ini merupakan puncak hierarki perang modern. Kenapa, karena manusia sendiri yang mengendalikan,” kata dia.
Menurut Agus, perang kognitif memanfaatkan teknologi untuk memengaruhi proses berpikir manusia dengan tujuan tertentu. Sehingga tanpa pengerahan kekuatan fisik secara langsung, tujuan itu bisa dicapai. Dia menyebut, konsep perang kognitif adalah sinkronisasi teknologi untuk meretas proses berpikir manusia.
”Targetnya adalah memengaruhi proses perhatian, persepsi, penilaian, dan pengambilan keputusan menggunakan teknologi yang dieksploitasi, dan tujuannya adalah kontrol, kendali, destabilisasi, termasuk kepercayaan,” ungkap dia.
Jenderal bintang satu TNI AD itu menyatakan bahwa agenda setting, framing, serta algoritma filter bubble dan echo chamber dalam pembentukan persepsi di ruang digital menjadi instrumen dalam perang kognitif.
Baca Juga:Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Dalam kesempatan yang sama, dia menyinggung manipulasi informasi yang bisa memicu erosi kepercayaan vertikal antara masyarakat kepada pemerintah, erosi kepercayaan horizontal di antara kelompok masyarakat, dan erosi kepercayaan epistemik yang membuat masyarakat kesulitan membedakan fakta dan rekayasa.
Dalam konteks Indonesia, Agus menyoroti demonstrasi sepanjang Agustus-September 2025, termasuk aksi di sekitar Gedung DPR RI dan sejumlah daerah dengan fokus studi kasus interaksi antara persoalan sosial-politik dan dinamika informasi digital.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022