
Salah satu UUV buatan perusahaan Italia, Fincantieri. Perusahaan tersebut menawarkan satu sistem UUV yang bisa terintegrasi dengan kapal permukaan. (Laman Resmi Fincantieri)
JawaPos.com - Temuan kendaraan bawah laut nirawak atau Unmanned Underwater Vehicle (UUV) berlabel asing di Selat Lombok pada April 2026 menjadi perhatian serius terhadap kemampuan pertahanan maritim Indonesia.
Fakta bahwa objek tersebut ditemukan oleh nelayan, bukan aparat atau otoritas maritim, dinilai menunjukkan masih perlunya penguatan sistem deteksi bawah laut di wilayah strategis Indonesia.
Sebagai negara maritim dengan wilayah perairan sangat luas, Pemerintah Indonesia harus memastikan seluruh Choke Points terjaga dengan baik. Demikian pula Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).
Mayjen TNI (Purn) Jan Pieter Ate menyinggung temuan UUV berlabel asing di Selat Lombok pada 6 April 2026 lalu. Apalagi, temuan itu diperoleh nelayan, bukan Angkatan Laut atau otoritas negara di bidang maritim.
Menurut dia, temuan tersebut menegaskan satu hal. "Penemuan UUV di Selat Lombok itu adalah penegasan bahwa kapabilitas untuk deteksi bawah air (bawah laut) kita itu sangat minim," kata dia dikutip dari siniar Ngobrol Pertahanan Indonesia pada Selasa (8/9).
Purnawirawan TNI yang pernah bertugas sebagai Direktur Kerja Sama Internasional pada Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan (Strahan) Kementerian Pertahanan (Kemhan) itu menyatakan bahwa temuan UUV di Selat Lombok harus menjadi pembelajaran bagi pemerintah.
"Itu harus jadi lesson learned yang sangat mendesak untuk pihak Kemhan dan TNI. Segera membuat program untuk melaksanakan capability gap yang harus diisi agar setahap demi setahap kemampuan kita itu mulai nampak," tegasnya.
Indonesia sebagai negara maritim, kata Jan, mestinya berorientasi pada peningkatan kemampuan dan kapabilitas pertahanan maritim. Sebaliknya, meningkatkan kemampuan darat perlu di-review.
Selain temuan UUV di Selat Lombok, perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel juga perlu jadi contoh dalam penguatan pertahanan.
Dalam siniar yang sama, Co-Founder Jakarta Defense Society (JDS) Novan Iman Santosa menyampaikan pembangunan kekuatan Maritim Indonesia harus pula melihat dinamika dan perkembangan di kawasan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022