Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 September 2026 | 16.08 WIB

Pasca Kebakaran, Gubernur NTB Muhammad Iqbal Dorong Pengakuan Formal Desa Sade sebagai Desa Adat

Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal (kanan) bersama sejumlah pemuka adat di Desa Sade, Kamis (3/9). - Image

Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal (kanan) bersama sejumlah pemuka adat di Desa Sade, Kamis (3/9).

JawaPos.com — Selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu kampung adat paling ikonik di Nusa Tenggara Barat (NTB), Sade ternyata belum pernah mendapatkan pengakuan formal sebagai desa adat. Momentum pembangunan kembali Sade pasca kebakaran kini akan digunakan Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal untuk mengubahnya.

“Ternyata mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Sade ini desa adat yang tidak pernah ada penetapannya sebagai desa adat. Hanya pernah ditetapkan sebagai desa wisata. Pengakuan bahwa Sade itu desa adat belum pernah secara formal,” kata Iqbal di Desa Sade, Lombok Tengah, NTB, Kamis, 3 September 2026.

Apalagi, kata Iqbal, pasca musibah kebakaran, banyak pihak yang sangat peduli dengan Desa Sade. Sejumlah kementerian, anggota DPR RI, perusahaan hingga berbagai pihak telah datang dan menyatakan keinginan untuk membantu pemulihan Sade. Momentum tersebut harus dimanfaatkan selain untuk pemulihan kawasan juga menjadikan Sade memperoleh penetapan formal sebagai desa adat dari pemerintah.

Langkah ini diharapkan menggeser cara pandang terhadap Sade, dari sekadar destinasi yang dikunjungi wisatawan menjadi warisan budaya yang harus dijaga keberlanjutannya. 

“Saya minta pada Dinas Kebudayaan, mulai dengan Balai Pelestarian Kebudayaan di sini, mulailah proses untuk pengakuan sebagai desa adat. Jadi ini sebagai situs kebudayaan, bukan sekadar situs wisata,” tegas Iqbal.

Desa Sade yang menjadi salah satu ikon NTB terbakar pada Sabtu, 22 Agustus 2026 lalu. Lebih dari 300 warga kehilangan tempat tinggal yang ludes terbakar. Terbakarnya Desa Sade ikut pula memusnahkan rumah adat suku Sasak beserta nilai-nilai warisan budayanya. 

Karena itu, kata Iqbal, momentum rekonstruksi harus dimanfaatkan untuk menata Sade secara lebih mendasar. Yakni, mempertahankan keaslian kampung, memperkuat perlindungan terhadap warisan budaya, sekaligus memberikan pengakuan formal terhadap status adatnya.

“Rekonstruksi Desa Sade ini bukan sekadar mendirikan kembali bangunan. Kita ingin membangun kembali peradaban. Jadi bukan sekadar kita desain terus bangun, tidak. Ini kerja-kerja sejarah, kerja peradaban,” kata Iqbal.

Menurut Iqbal, membangun kembali Sade harus dilakukan dengan pemahaman yang kuat terhadap filosofi arsitektur, tata ruang, dan nilai hidup masyarakat Sasak. “Karena itulah nilai-nilai yang membentuk Desa Sade secara turun temurun dari generasi ke generasi,” katanya.

Karena itu, Iqbal justru meminta rekonstruksi keseluruhan kawasan tidak dilakukan terburu-buru. Kecepatan memulihkan kehidupan warga, menurut dia, harus dibedakan dengan ketergesa-gesaan dalam membangun sebuah kampung adat.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore