Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 September 2026 | 15.43 WIB

Hadapi Karhutla di Tengah Fenomena El Nino Ekstrem Butuh Kolaborasi

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat seiring memasuki periode kemarau dan adanya fenomena El Niño. (Istimewa) - Image

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat seiring memasuki periode kemarau dan adanya fenomena El Niño. (Istimewa)

JawaPos.com - Fenomena El Nino ekstrem membutuhkan keterlibatan seluruh pihak dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Upaya pencegahan menanggulangi kebakaran tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah dan perusahaan pemegang konsesi semata. Diperlukan semangat gotong royong.

Pakar Hukum Kehutanan Universitas Al-Azhar Indonesia Sadino mengatakan, kondisi El Niño berpotensi membuat dampak kebakaran menjadi lebih besar dengan durasi yang lebih panjang. Oleh karena itu, penanganannya membutuhkan kesiapan sumber daya, sarana dan biaya yang tidak sedikit.

“Kalau dilihat dari kondisi El Niño memang ada potensi ke sana. Dampaknya lebih besar dengan waktu yang lebih panjang. Tentu memerlukan biaya besar, maka diperlukan kerja sama semua pihak,” ujar Sadino kepada media pada Jumat (4/9).

Menurut dia, kebakaran merupakan musibah sekaligus ujian yang dapat terjadi di berbagai wilayah dan tidak mengenal status penguasaan lahan. Bahkan, kawasan hutan negara seperti taman nasional juga tidak terlepas dari ancaman kebakaran. “Api tidak bisa membedakan penguasaan lahan,” katanya.

Sadino mengingatkan agar penanganan karhutla dilakukan secara hati-hati dan tidak langsung menggeneralisasi bahwa setiap kebakaran disebabkan oleh perusahaan atau kelompok tertentu. Penyebab kebakaran perlu dibuktikan berdasarkan fakta di lapangan.

Sebagian besar pihak tentu tidak menghendaki terjadinya kebakaran. Namun, apabila ditemukan adanya pembakaran yang disengaja dan memiliki motif tertentu, hal tersebut menjadi ranah aparat penegak hukum untuk membuktikannya.

Untuk itu, pentingnya penelusuran fire origin atau asal mula api dalam proses investigasi kebakaran. Penentuan titik awal kebakaran dapat membantu mengetahui dari mana api pertama kali muncul, tetapi belum otomatis menunjukkan siapa yang menyalakan api atau pihak yang harus bertanggung jawab. “Fire origin secara satelit mungkin diketahui, tetapi secara faktual sulit dilacak asal-usul apinya,” ujarnya.

Menurut dia, persoalan menjadi lebih kompleks karena masih terdapat kawasan hutan dan lahan yang bersifat open access atau tidak terjaga secara optimal. Karena itu, lokasi kebakaran, titik awal api, sumber api dan pihak yang bertanggung jawab harus dibedakan dalam proses investigasi. Pendekatan berbasis fakta tersebut diperlukan agar penanganan karhutla tidak berubah menjadi saling tuding antarpihak.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore