Ilustrasi koruptor. (Dok JawaPos.com)
JawaPos.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut, masih maraknya praktik korupsi yang menyeret kepala daerah menunjukkan persoalan korupsi di lingkungan pemerintah daerah belum terselesaikan. Fenomena tersebut dinilai praktik korupsi masih dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari integritas individu hingga kelemahan sistem yang membuka peluang penyimpangan.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan, berbagai perkara yang ditangani lembaganya memperlihatkan bahwa persoalan korupsi di daerah tidak bisa dipandang sebagai tindakan yang berdiri sendiri. Sejak awal Januari hingga Juli 2026, lembaga antirasuah telah menjerat 10 kepala daerah sebagai tersangka.
"Masih banyaknya peristiwa tertangkap tangan dugaan tindak pidana korupsi yang melibatkan sejumlah kepala daerah menggambarkan persoalan dan risiko terjadinya korupsi di pemerintah daerah masih kompleks dan memerlukan penanganan lebih serius dan menyeluruh," kata Budi Prasetyo kepada wartawan, Minggu (19/7).
Menurut Budi, korupsi umumnya muncul akibat perpaduan berbagai faktor, baik yang berasal dari lemahnya integritas penyelenggara negara maupun sistem yang belum mampu menutup celah terjadinya penyimpangan.
Dari hasil penanganan perkara yang dilakukan KPK, salah satu penyebab yang paling sering ditemukan ialah tingginya biaya politik dalam pemilihan umum maupun pemilihan kepala daerah.
"Dari perkara yang ditangani KPK, salah satu faktor yang kerap muncul adalah tingginya biaya politik dalam pemilu maupun pemilihan kepala daerah. Dalam beberapa kasus, KPK menemukan adanya keterkaitan antara dukungan pendanaan politik dengan upaya memperoleh keuntungan setelah kandidat terpilih," ucap Budi.
Ia mencontohkan, perkara dugaan korupsi di Kabupaten Ponorogo yang memperlihatkan adanya indikasi penyandang dana politik memperoleh akses terhadap proyek-proyek pemerintah setelah kandidat yang didukung berhasil terpilih. Dalam perkara tersebut, penyandang dana diduga ikut mengatur pelaksanaan proyek pemerintah dan mendapatkan keuntungan dari berbagai pekerjaan yang dibiayai APBD.
Pola serupa juga ditemukan KPK dalam perkara di Kabupaten Langkat. Ia menuturkan, pihak swasta yang sebelumnya menjadi bagian dari tim sukses kepala daerah diduga memperoleh berbagai paket pekerjaan pemerintah setelah kandidat memenangkan pemilihan.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
