
Menko Yusril Ihza Mahendra menanggapi 5 WNI yang ditangkap tentara zionis Israel di perairan Mediterania, Selasa (19/5). (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra menyampaikan orasi kebangsaan di Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) pada Selasa (7/7). Yusril mengingatkan pentingnya etika bernegara.
Dalam orasinya, Yusril menyampaikan bahwa para pendiri bangsa sudah pernah berdebat panjang ihwal bentuk negara. Mulai gagasan tentang sekuler, negara berlandas Islam, sampai akhirnya mencapai titik temu lewat kompromi politik yang menjadi landasan lahirnya Piagam Jakarta.
Salah satu debat panjang yang diulas oleh Yusril adalah pemikiran Soekarno dan Mohammad Natsir. Persisnya yang terkait dengan hubungan antara agama dengan negara. Menurut dia, pandangan kedua tokoh tersebut sering disalahartikan dalam perkembangan sejarah.
”Soekarno bukan sekuler, beliau menghendaki negara didasarkan atas kebangsaan, tetapi jika mayoritas rakyat menghendaki hukum yang bercorak Islam melalui mekanisme demokrasi, maka itu dapat diwujudkan melalui lembaga perwakilan,” kata dia.
Di lain sisi, Yusril menyampaikan bahwa Mohammad Natsir juga tidak menghendaki negara teokrasi. Dia menyatakan, Natsir menerima prinsip kedaulatan rakyat, namun tetap menjadikan nilai-nilai ketuhanan dan etika universal sebagai pedoman dalam penyelenggaraan negara.
”Nilai-nilai, norma-norma etik yang bersifat universal, itulah yang harus menjadi acuan dalam penyelenggaraan negara,” tegasnya.
Yusril juga menekankan bahwa agama berperan strategis sebagai sumber nilai moral dan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dia menyebut, setelah merdeka, Indonesia memiliki konstitusi yang menempatkan demokrasi berdasarkan kedaulatan rakyat sebagai fondasi negara. Sehingga nilai-nilai etika tidak boleh dipisahkan dari kehidupan bernegara.
”Agama mengajarkan kita bijak, mengajarkan kita lurus, dan memberikan landasan kepada etika. Kita tidak mungkin melupakan dasar etik yang sesungguhnya kita temukan di dalam agama-agama yang kita yakini dan hidup di tanah air kita,” ujarnya.
Lewat orasi yang sama, Yusril juga menyinggung perkembangan bahasa sebagai bagian dari peradaban bangsa Indonesia. Dia menilai, bahasa daerah memiliki fungsi penting sebagai identitas budaya meski sampai saat ini belum berkembang menjadi bahasa akademik yang mampu menopang pengembangan ilmu pengetahuan modern.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
