
Dirjen Imigrasi Hendarsam Marantoko saat berbicara dalam forum internasional di Kamboja. Dia menyinggung soal keberhasilan Polri menangkapi 210 WNA di Batam berkat kerja sama luar dan dalam negeri. (Imigrasi)
JawaPos.com - Penguatan pemeriksaan perbatasan, pengawasan Warga Negara Asing (WNA), dan integrasi layanan digital menjadi penekanan Direktur Jenderal (Dirjen) Imigrasi Hendarsam Marantoko dalam forum internasional DGICM yang berlangsung di Kamboja pada 23-25 Juni 2026.
Menurut Hendarsam, ketiga poin tersebut menjadi pilar strategi yang menopang sistem keimigrasian nasional Indonesia. Dengan dukungan berbagai instansi dari dalam dan luar negeri, dia yakin ketiga pilar tersebut efektif mendeteksi dan menangani pelanggaran keimigrasian.
”Didukung dengan kolaborasi lintas instansi, kami telah mampu mendeteksi dini pelanggaran keimigrasian dan kejahatan transnasional, baik sebelum, saat, maupun setelah pemeriksaan dilakukan,” kata Hendarsam dalam keterangan resmi pada Kamis (25/6).
Hendarsam menekankan bahwa dalam sektor pengamanan perbatasan, instansinya selalu mengoptimalkan analisis berbasis risiko melalui Passengers Analysis Unit (PAU) di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) dan Immigration Traffic Monitoring Center (ITMC) di tingkat pusat.
Selain itu, Hendarsam menjelaskan, efektivitas Aplikasi Pelaporan Orang Asing (APOA) yang saat ini sudah terintegrasi dengan Polri sebagai otoritas kepolisian di Indonesia telah berkontribusi dalam penangkapan 210 WNA. Ratusan WNA itu terkait kasus dalam penipuan investasi daring atau online scam di Batam pada awal Mei 2026.
Ratusan WNA itu ditangkap sebagai bagian dari upaya mencegah terjadinya penyalahgunaan izin tinggal. Dalam keterangan yang sama, Hendarsam menyampaikan bahwa pihaknya juga hadir dalam pertemuan bilateral dengan Department of Home of Affairs (DHA) Australia.
”Kami usulkan agar untuk prosedur penerbitan Visa Kerja dan Liburan (Working Holiday Visa) untuk WNI, dapat secara proporsional dikelola oleh pemerintah Australia,” jelasnya.
Usulan yang disampaikan oleh Hendarsam terkait dengan Sistem Undian (Ballot System). Menurut dia, sistem tersebut lebih sesuai untuk memenuhi kebutuhan jaminan aspek keadilan, transparansi, dan efisiensi dalam pengelolaan kuota pendaftar dari Indonesia yang tinggi.
Khusus di tataran regional, Indonesia kini ditunjuk sebagai Voluntary Lead Shepherd (VLS) untuk isu Penyelundupan Manusia (People Smuggling) dalam implementasi Plan of Action (PoA) DGICM. Area kerja sama regional lainnya dipimpin oleh Kamboja (Intelligence Data Sharing Protocol), Malaysia (Foreign Terrorist Fighters Movement), Singapura (Fraudulent Travel Documents), dan Brunei Darussalam (Consular Matters).
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
