
Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti. (Akun X @azissubekti)
JawaPos.com - Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, menilai tahun 2027 harus menjadi titik penting bagi Indonesia untuk mengubah arah pembangunan nasional. Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya dikenal sebagai negara dengan kekuatan fiskal, tetapi juga harus mampu menjadi negara yang produktif dan berdaya saing.
Azis menjelaskan, selama lebih dari dua dekade terakhir Indonesia berhasil menjaga stabilitas ekonomi, memperluas pembangunan infrastruktur, memperkuat perlindungan sosial, hingga menghadirkan layanan negara sampai tingkat desa. Namun, ia mempertanyakan sejauh mana kekuatan fiskal tersebut benar-benar mampu melahirkan produktivitas ekonomi.
“Capaian itu penting dan harus dihargai. Namun pertanyaan berikutnya adalah, apakah seluruh sumber daya fiskal yang kita miliki sudah benar-benar melahirkan produktivitas, nilai tambah, lapangan kerja berkualitas, dan daya saing nasional?” kata Azis kepada wartawan, Kamis (11/6).
Menurut dia, tantangan terbesar Indonesia ke depan bukan lagi sekadar menjaga stabilitas ekonomi, melainkan meningkatkan produktivitas nasional. Karena itu, keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari besarnya anggaran maupun tingginya serapan belanja pemerintah.
“Yang harus kita ukur bukan hanya berapa besar APBN dan APBD dibelanjakan, tetapi kemampuan ekonomi apa yang lahir dari belanja itu. Apakah masyarakat semakin produktif, apakah daerah semakin mandiri, apakah nilai tambah ekonomi meningkat, dan apakah daya saing bangsa semakin kuat,” ujarnya.
Azis menilai, Indonesia selama ini berhasil membangun fondasi sebagai negara fiskal yang mampu menghimpun penerimaan, menjaga stabilitas keuangan publik, serta memperluas pelayanan kepada masyarakat. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kekuatan fiskal belum otomatis menjadikan Indonesia sebagai negara produktif.
“Negara fiskal diukur dari kemampuannya mengumpulkan dan membelanjakan sumber daya. Negara produktif diukur dari kemampuannya mengubah sumber daya itu menjadi kemampuan ekonomi yang terus berkembang,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam penyusunan APBN dan APBD. Menurut Azis, pemerintah harus mulai membedakan antara belanja yang habis dipakai dengan investasi pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Jalan yang baik akan melayani ekonomi puluhan tahun. Sekolah yang baik akan melahirkan generasi produktif puluhan tahun. Pelabuhan yang baik akan menggerakkan perdagangan puluhan tahun. Karena itu, orientasi pembangunan harus bergeser dari sekadar membiayai kegiatan menjadi membangun kemampuan,” ungkapnya.
Azis juga menyoroti budaya birokrasi yang dinilai masih terlalu fokus pada aktivitas administratif dibanding hasil nyata di lapangan. Selama ini, ukuran keberhasilan birokrasi kerap berhenti pada serapan anggaran, jumlah program, atau laporan kegiatan, padahal masyarakat membutuhkan manfaat langsung dari pembangunan.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Prediksi Susunan Pemain Korsel vs Republik Ceko: Son Heung-min Tegaskan Siap Bantu Taegeuk Warrior Menang!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Prediksi Kanada vs Bosnia di Piala Dunia 2026: Tuan Rumah Dibayangi Ancaman Kuda Hitam dari Eropa
