Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal/(Instagram @dinopattidjalal).
JawaPos.com – Intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan. Founder and Chairman of (FPCI), Dino Patti Djalal, mengimbau Prabowo untuk secara signifikan mengurangi frekuensi perjalanan internasionalnya dan tidak menganggap remeh kritik publik terkait hal tersebut.
Dino mengaku imbauan ini disampaikan tak lain sebagai bentuk perhatian sebagai sahabat lama Prabowo, sekaligus mewakili sebagian kalangan hubungan internasional dan masyarakat yang menaruh perhatian terhadap efektivitas agenda kenegaraan tersebut.
"Sebagai sahabat lama Bapak, saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia menghimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri," ujar Dino dalam sebuah video unggahan di akun Instagram resmi @Dinopattidjalal, Sabtu (30/5).
Menurut dia, berdasarkan perhitungan yang dilakukan pihaknya, Prabowo merupakan salah satu kepala negara dengan frekuensi perjalanan luar negeri tertinggi di dunia sejak dilantik menjadi Presiden.
"Sejak menjabat sebagai Presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri. Dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran," lanjutnya.
Dino menilai pola kunjungan dengan intensitas seperti saat ini sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Ia menyoroti kemungkinan munculnya persepsi publik bahwa Presiden lebih banyak berada di luar negeri dibandingkan menangani berbagai persoalan domestik.
Menurutnya, akan sangat tidak lazim apabila dalam 18 bulan ke depan Prabowo terus menjalankan kunjungan internasional dengan frekuensi yang sama tinggi.
"Tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran dan sangat tidak mungkin dalam 18 bulan ke depan Presiden Prabowo terus melakukan kunjungan internasional dalam frekuensi yang sama tingginya," bebernya.
Selain soal efektivitas waktu, Dino juga menyinggung besarnya biaya yang harus dikeluarkan negara untuk setiap perjalanan kenegaraan. Ia menjelaskan bahwa kunjungan Presiden ke luar negeri tidak hanya mencakup biaya penerbangan, tetapi juga berbagai komponen pendukung lainnya.
"Kunjungan Kepala Negara ke luar negeri memakan biaya yang besar dan bahkan sangat besar. Ini termasuk biaya rombongan tim pendahulu, biaya pesawat, biaya hotel, biaya logistik, biaya konsumsi, biaya protokoler dan pengamanan, biaya uang harian untuk seluruh delegasi dan perangkat pendamping, dan berbagai biaya lainnya," pungkasnya.
Untuk diketahui, kunjungan terakhir Presiden Prabowo yakni ke Prancis untuk bertemu dengan Emmanuel Macron. Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo Subianto juga dikabarkan melaksanakan salat Idul Adha 1447 Hijriah di Prancis.
Selama Prabowo di Prancis, mata uang Garuda babak belur di hadapan dolar AS dan mata uang dunia lainnya. Mengutip Bloomberg, dalam penutupan pasar spot Jumat (29/5) rupiah berada di level Rp 17.881 per dolar AS.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
