
Massa aksi yang tergabung dalam Amnesty Internasional melakukan demonstrasi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (10/12/2019). Aksi tersebut untuk memperingati Hari HAM Internasional. HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS
JawaPos.com - Dalam laporan terbaru Amnesty International terungkap temuan terkait dengan kampanye disinformasi yang terkoordinasi. Tujuannya melabeli pengkritik pemerintah sebagai antek asing. Sasarannya mulai aktivis yang kerap bersuara sampai jurnalis.
Lewat keterangan resmi yang disampaikan pada Selasa (19/5), Amnesty International menyatakan bahwa kampanye disinformasi tersebut tidak hanya membungkam perbedaan pendapat, melainkan juga memicu lahirnya intimidasi dan kekerasan terhadap para pengkritik pemerintah.
Merujuk laporan berjudul Building up Imaginary Enemies itu, terungkap pola yang terus berkembang. Yakni penyebaran disinformasi secara daring untuk menyerang jurnalis, aktivis, akademisi, dan pengunjuk rasa. Kampanye disinformasi itu juga disebut dibiarkan oleh raksasa teknologi seperti Meta, TikTok, X, dan YouTube.
”Riset Amnesty ini menunjukkan bahwa dalam 18 bulan sejak Prabowo berkuasa (sebagai presiden Indonesia), disinformasi daring telah muncul sebagai taktik utama untuk secara sistematis mendiskreditkan pengkritik pemerintah, menutup ruang debat publik, dan membenarkan represi,” ungkap Sekretaris Jenderal Amnesty International Agnès Callamard dalam keterangan resminya.
Menurut Agnès, perusahaan-perusahaan media sosial hanya berpangku tangan dan membiarkan hal itu terjadi. Dia menyatakan bahwa disinformasi tersebut menjadi senjata politik yang dikerahkan untuk mengkonsolidasikan kekuasaan pemerintah ketika kritik publik menguat.
”Sekaligus mengkambinghitamkan dan melemahkan mereka yang berani angkat bicara. Dengan mencap pengunjuk rasa, jurnalis, dan pembela hak asasi manusia sebagai antek asing, otoritas Indonesia dan para pendukungnya secara sengaja mengalihkan perhatian dan mengabaikan keluh kesah masyarakat yang sah,” bebernya.
Dalam keterangan yang sama, Amnesty International menyatakan bahwa sejak Prabowo menjadi presiden, telah terjadi beberapa gelombang demonstrasi di Indonesia, termasuk aksi menentang korupsi, pemotongan anggaran, perusakan lingkungan, dan perluasan wewenang yang diberikan kepada militer.
Amnesty International mencatat bahwa Prabowo dan para pejabat senior menanggapinya dengan berulang kali menuduh para pengkritik secara terbuka. Bahwa mereka dibayar, dimanipulasi, dan dikendalikan oleh kepentingan asing. Mereka juga mencap perbedaan pendapat sebagai sesuatu yang didalangi.
Baca Juga:Kecam Kiai Lecehkan 50 Santriwati, Amnesty Soroti Tersangka Baru Ditangkap Setelah 2 Tahun
”Tindakan itu kemudian diikuti oleh meluasnya narasi antek asing terhadap aktor-aktor masyarakat sipil secara daring. Narasi tersebut seringkali didasarkan pada klaim tidak berdasar bahwa mereka ingin merusak atau memecah belah Indonesia hanya karena menerima pendanaan asing atau bantuan lainnya dari luar negeri,” tulis Amnesty International dalam keterangan tersebut.

Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Prediksi Skor Portugal vs Spanyol: Pasar Taruhan Dunia Jagokan La Furia Roja, Ronaldo Siap Balas Rekor Buruk
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di Piala Dunia 2026: Lionel Messi vs Mohamed Salah, Albiceleste Diunggulkan ke Perempat Final
Dijanjikan Gaji Rp 1,4 Juta Hanya Cair Rp 76 Ribu, Kopdes Merah Putih di Bojonegoro Pilih Tutup
Prediksi Swiss vs Kolombia di 16 Besar Piala Dunia 2026: Sesumbar De Nati Andalkan Manzambi
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Belgia: Bursa Taruhan Dunia Ramalkan Imbang, Red Devils Unggul Head to Head
Prediksi Skor Argentina vs Mesir di 16 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Lionel Messi atau Mohamed Salah
