
Founder Ipang Wahid Stratejik (IPWS), Irfan Asy’ari Sudirman Wahid alias Ipang Wahid.
JawaPos.com – Wajah komunikasi publik saat ini dinilai memasuki era age of noise, yaitu kondisi ketika kecepatan informasi menjadi kunci utama. Dalam situasi ini, sekitar 70 persen opini publik terhadap suatu isu terbentuk dalam kurun waktu 24–48 jam pertama.
Rentang waktu yang singkat tersebut menciptakan tantangan besar bagi brand dan institusi untuk menentukan apakah mereka akan diterima atau justru ditolak oleh publik.
Founder Ipang Wahid Stratejik (IPWS), Irfan Asy’ari Sudirman Wahid alias Ipang Wahid, menjelaskan banyak brand dan institusi masih terjebak dalam pola komunikasi lama yang kaku, defensif, dan berpusat pada diri sendiri.
“Akibatnya, pesan yang disampaikan tenggelam di tengah arus informasi, bahkan berpotensi menjadi bumerang yang memperburuk situasi,” kata Ipang Wahid dalam keterangan tertulis, Senin (9/3).
Ia mencontohkan, fenomena serupa pernah terjadi dalam krisis komunikasi sebuah perusahaan bahan bakar minyak (BBM) ketika isu penurunan kualitas produk viral di media sosial. Dalam waktu singkat, ruang digital dipenuhi testimoni negatif dari publik yang mengaku langsung merasakan dampaknya.
Perusahaan tersebut merespons dengan pendekatan teknis melalui paparan data dan hasil uji laboratorium. Namun, di tengah kekecewaan publik, respons itu justru dinilai tidak menjawab keresahan masyarakat.
Pada saat yang sama, kompetitor lain justru memperoleh dukungan publik tanpa menampilkan data teknis secara defensif. Perusahaan tersebut hadir dengan narasi yang lebih empatik, serta menonjolkan pengalaman pelanggan yang positif di lapangan.
Menurut Ipang, pergeseran loyalitas publik terjadi bukan karena kekuatan data semata, melainkan karena publik merasa lebih didengar dan dipahami.
Krisis semacam ini kerap membesar karena institusi melewatkan golden hour, yaitu menit-menit krusial di awal krisis yang menentukan arah narasi publik. Ketika respons terlambat atau tidak relevan secara emosional, ruang komunikasi akan diisi oleh suara publik dengan framing negatif yang sulit dikendalikan.
Berdasarkan data IPWS Magazine Vol. 1: Mengapa Institusi Sering ‘Gagap’ dalam Komunikasi Publik?, konten yang mengandung unsur emosional mampu meningkatkan tingkat shareability hingga 75 persen. Sebaliknya, konten formal yang didominasi data hanya mencapai angka 33 persen.
Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku audiens digital, di mana emosi menjadi faktor utama dalam membentuk perhatian dan persepsi publik.
Ia berpendapat, konten emosional hadir sebagai jawaban atas keterbatasan bahasa komunikasi yang kaku. Dibandingkan sekadar menyampaikan klarifikasi atau deretan angka, institusi perlu membangun narasi berbasis empati yang mampu menyentuh sisi kemanusiaan publik.
Sebab, manusia cenderung memproses informasi melalui emosi sebelum logika. Konten yang memuat rasa haru, empati, atau harapan lebih mudah menjangkau hati warganet yang semakin jenuh terhadap iklan maupun narasi formal.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Rapid Vienna vs Hearts: Tuan Rumah Terancam Tumbang di Liga Konferensi Eropa
Prediksi Skor Viking FK vs Dinamo Zagreb: Purgeri Diprediksi Menang Tipis di Norwegia!
Desta Resmi Hengkang dari Vindes, Perusahaan Berjalan Bersama Vincent Rompies
Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor AEK Athens vs Levski Sofia di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Tuan Rumah Menang!
Prediksi Skor Celta Vigo vs Osasuna di Liga Spanyol 2026/2027: Los Celestes Bakal Raih 3 Poin!
Prediksi Skor Celje vs Slovan Bratislava di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Berujung Penalti?
Prediksi Skor Lyon vs Fenerbahce di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Kans Les Gones Menang!
Kiai Ta’in Tebuireng Dipolisikan Jelang Muktamar NU, TAAT Pasang Badan
Prediksi Skor Rapid Wien vs Hearts di Play-off Liga Konferensi Eropa: Tim Tamu Dijagokan Lolos!
