Adelina Puspitasari, 30 tahun, penderita thalasemia. (BPJS Kesehatan)
JawaPos.com-Tubuh Adelina Puspitasari, 30 tahun, kerap terasa lemas sejak usianya masih belia. Di bangku sekolah dasar, ia sudah akrab dengan rasa pusing dan wajah pucat yang membuat sang ibu cemas.
Saat itu, tak ada yang menyangka keluhan yang terlihat sederhana tersebut menjadi awal perjalanan panjang wanita asal Borobudur, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang itu berdampingan dengan thalasemia.
“Saya kena thalasemia itu sejak umur sembilan tahun, waktu kecil itu sering lemas, pusing, dan badan keliahatan pucat. Dulu dibawa sama ibu ke puskesmas, awalnya dikira anemia biasa lalu diberi rujukan ke rumah sakit untuk transfusi,” ucapnya saat ditemui di kediamannya pada Senin (23/02) dilansir laman resmi BPJS Kesehatan, Sabtu (28/2).
Lambat laun, beberapa bulan berlalu tubuh Adelina tak kunjung menunjukkan tanda-tanda membaik. Badan kembali lemas disertai pusing dan pucat pada sekujur tubuhnya. Merasa semakin tak karuan, kemudian dilakukan pengecekan darah pada tubuh Adelina, dan benar saja kadar hemoglobin di tubuhnya menyentuh angka empat.
“Karena hal itu, akhirnya dilakukan cek HbE (Hemoglobin E) untuk mengecek kelainan darah, berdasarkan hasil tersebut barulah saat itu saya divonis terkena penyakit thalasemia,” ujarnya.
Sekian tahun sudah dirinya harus menghadapi penyakit thalasemia. Terdaftar sebagai peserta Program JKN melalui mekanisme Universal Health Coverage (UHC) yang dibiayai Pemerintah Kota Semarang membuat dirinya bersyukur dan dapat bertahan hingga saat ini.
“Alhamdulillah dari dulu sampai sekarang sama sekali tidak pernah ada kendala, mulai dari tindakan, pemberian obat yang selalu tersedia, maupun transfusi. Apalagi ketika dulu saat saya hamil, adanya UHC ini sangat membantu kami sekeluarga,” kata Adelina.
“Sekarang tinggal menjaga pola hidup saja dan rutin untuk transfusi darah, karena setelah transfusi tubuh terasa lebih enakan, saat ini saya rutin transfusi dua minggu sekali di Rumah Sakit dr. Kariadi,” jelasnya.
Adelina turut mengapresiasi perkembangan Program JKN, menurutnya banyak kemajuan yang ia rasakan. Salah satu yang ia soroti ialah surat rujukan yang sudah dapat dilakukan perpanjangan langsung di rumah sakit bagi pasien penderita thalasemia.
“Dengan adanya Program JKN dan UHC ini tentu sangat membantu, apalagi soal biaya yang pastinya tidak sedikit, karena harus transfusi darah secara rutin, belum obat-obatan yang harus dikonsumsi, tak terbayangkan kalau harus pakai biaya mandiri,” tambahnya.
Adelina berharap semoga program ini dapat berjalan dengan baik dan dapat terus membantu orang yang membutuhkan, terlebih bagi peserta-peserta lain yang memiliki penyakit katastropik seperti dirinya.
“Tentunya saya mengucapkan terima kasih, dengan adanya BPJS Kesehatan dan UHC ini sangat membantu pengobatan saya dari dulu hingga saat ini,” tutur dia. (*)

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
