
Ketua PBNU Said Aqil Siradj menyampaikan sambutan di acara Harlah NU ke-93 sekaligus Konsolidasi Organisasi Jelang Satu Abad di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (31/1).
JawaPos.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya memastikan polemik internal di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) telah diakhiri melalui kesepakatan islah bersama Rais Aam KH Miftachul Akhyar. Kesepakatan tersebut menegaskan komitmen semua pihak untuk kembali berfokus pada agenda organisasi sesuai hasil Muktamar ke-34 di Lampung.
“Kesepakatan islah itu jelas bahwa semua persoalan ditinggalkan, persoalan yang selama ini diributkan ditinggalkan, kembali pada hasil Muktamar Lampung, kemungkinan tetap pada mandataris ke-34 di Lampung bersama-sama mempersiapkan dan memimpin Muktamar berikutnya," kata Gus Yahya di kantor PBNU, Jakarta, Kamis (15/1).
Gus Yahya menjelaskan, langkah-langkah lanjutan telah dikomunikasikan dengan Rais Aam sebagai bagian dari konsolidasi organisasi. Bahkan, PBNU akan menggelar peringatan Hari Lahir (Harlah) NU yang kesatu abad pada 31 Januari 2026.
“Nah selanjutnya saya sudah berkomunikasi dengan Rais Aam sudah ada beberapa langkah yang disepakati bahwa misalnya kita nanti insyaallah 31 Januari nanti akan menyelenggarakan peringatan hari lahir NU yang ke-100 tahun menurut kalender Masehi atau 103 tahun menurut kalender hijriah," tuturnya.
Gus Yahya menegaskan, peringatan harlah tersebut akan dipimpin langsung oleh jajaran tertinggi PBNU sebagai simbol persatuan pasca-islah.
“Itu bersama-sama Rais Aam dan saya sebagai ketua umum," tuturnya.
Selain agenda harlah, PBNU juga akan menyiapkan tahapan menuju Muktamar secara konstitusional. Proses tersebut akan diawali dari rapat-rapat internal hingga forum-forum permusyawaratan resmi di lingkungan NU.
“Kemudian juga akan dilaksanakan prosedur menuju Muktamar, mulai dari rapat-rapat di tingkat PBNU sampai kemudian menggelar forum permusyawaratan sebagai musyawarah nasional alim ulama dan konferensi besar NU," bebernya.
Gus Yahya menambahkan, seluruh materi, waktu, dan tempat Muktamar harus ditetapkan melalui mekanisme musyawarah nasional alim ulama dan konferensi besar NU.
“Karena Muktamar itu materinya harus ditetapkan oleh Munas dan Konbes, kemudian waktu dan tempatnya juga harus ditetapkan melalui munas dan Konbes," pungkasnya.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
