
Keluarga KH Abdurrahman Wahid menggelar Haul ke-15 Gus Dur di Ciganjur, Jakarta, Sabtu (21/12/2024). (Fedrik Tarigan/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Haul ke-16 Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengangkat tema Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat. Rencananya agenda tahunan tersebut akan berlangsung di Jakarta pada Sabtu malam (20/12).
Panitia penyelenggara mengambil tema setelah melihat kondisi dan situasi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini.
Menurut Ketua Panitia Haul Gus Dur ke-16 Alissa Wahid, tema tersebut dipilih pihak keluarga sebagai upaya untuk menghadirkan inspirasi dan keteladanan Gus Dur dalam mengawal proses demokrasi yang dipilih oleh Indonesia dalam menjalankan sistem politiknya.
Menurut dia, tema itu sesuai dengan kondisi dan situasi bangsa belakangan ini.
”Kenapa kami angkat tema ini? Karena Gus Dur sepanjang hidupnya memperjuangkan kedaulatan rakyat, kedaulatan sipil. Itu beliau betul-betul perjuangkan. Beliau mengajarkan kepada kita, sikap pribadi maupun sikap kepemimpinan. Jadi, Kebijakan-kebijakan yang diambil, atau strategi yang diambil berangkat Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat,” ungkap Allisa dalam keterangan resmi pada Jumat (19/12).
Menurut Allisa, saat ini rakyat semakin tergeser dari proses kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan tidak lagi menjadi porosnya.
Pengesahan undang-undang yang dilakukan dengan senyap tanpa melibatkan publik, kembalinya aparat bersenjata ke ruang-ruang politik dan sipil, program-program pemerintah yang tidak berdampak atau menjawab persoalan rakyat menunjukkan lemahnya supremasi sipil.
Tidak hanya itu, urun rembuk, kritik, hingga masukan dari masyarakat terhadap kebijakan pemerintah seperti dianggap angin lalu. Masyarakat yang bersuara justru ditangkap oleh aparat dengan berbagai alasan.
Kondisi itu, memperlihatkan hukum yang semakin semena-mena terhadap rakyat. Belum lagi, pengesahan UU KUHAP oleh DPR dan gelar pahlawan nasional yang diberikan kepada Soeharto.
Alissa menegaskan bahwa setiap rakyat punya martabat, hak, sumber daya pribadi, potensi, dan aspirasi. Pada dasarnya, lanjut Alissa, cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia adalah menjadikan rakyatnya mendapatkan keadilan, makmur, dan sentosa.
Karena itu, apapun yang dilakukan oleh kita semua, pada skala bangsa dan negara, seharusnya untuk kepentingan rakyat.
”Dalam konsep demokrasi, untuk rakyat itu artinya melibatkan rakyat. Jadi, harapannya, aspirasinya, dan kebutuhannya itu diperhatikan dalam menyusun atau mengelola kehidupan bersama. Jadi, nggak hanya terima bansos, atau dijadikan pasar ekonomi, atau pelengkap penderita,” imbuhnya.
Hari ini Alissa melihat semangat berdemokrasi di Indonesia ini mulai luntur. Baik di tataran rakyat maupun penyelenggara negara, dan khususnya partai politik.
Menurut dia, kondisi itu sudah pantas menjadi peringatan bagi bangsa Indonesia agar tidak melenceng dari kesepakatan sistem demokrasi yang sudah dianut bertahun-tahun lamanya.
“Ini suatu alarm buat kita semua,” tandas Direktur Jaringan GUSDURian Indonesia tersebut.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
