Sosok tangguh dibalik dapur MBG Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Ibu Indy (kiri), Ibu Rini (tengah), dan Ibu Ziah (kanan). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com - Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, menjadi salah satu dapur yang mampu mempertahankan konsistensi penyediaan hingga 4.000 porsi makanan setiap hari. Pencapaian itu bukan hanya soal jumlah, tetapi juga hasil dari manajemen dapur yang tertata, koordinasi ketat, serta suplai bahan baku yang selalu terpenuhi.
Menu MBG sendiri ditentukan oleh ahli gizi. Tim dapur hanya menyesuaikan dengan kondisi lapangan bila pendamping menu dirasa perlu diatur ulang.
“Alhamdulillah sih disini lancar terus (suplai bahan baku). Menunya dari ahli gizi, sudah ditentuin sama ahli gizi. Nggak pernah ada kekurangan,” kata Ibu Indy, tukang masak di dapur MBG Kebayoran Lama kepada JawaPos.com, Selasa (9/12).
Adanya keteraturan pasokan ini bukan tanpa sebab. Pasalnya, seluruh proses memasak turut dimulai oleh sesi briefing untuk memastikan kondisi suplai bahan baku.
“Sebelum dimulai itu kita selalu briefing dulu. Doa dulu. Di briefing ini dijelasin nanti orang ini kerjanya apa aja, ada PJ-PJ-nya,” ujarnya.
Pembagian peran pun disebut menjadi kunci. Setiap hari ada delapan orang yang bertugas di dapur, masing-masing memegang tanggung jawab konkret agar pekerjaan tidak menumpuk di satu orang. Meski begitu, ketika satu tugas rampung, anggota lain akan membantu bagian yang belum selesai.
“Jadi 8 orang ini masing-masing punya tugasnya. Jadi biar ada tanggung jawabnya juga,” ungkap Ibu Indy.
Menariknya, untuk mencapai total 4.000 porsi, dapur MBG tidak memasak sekaligus. Proses dilakukan bertahap mulai tengah malam sekitar pukul 12 siang. Proses masak pun dilakukan bertahap untuk menjaga agar makanan yang dikirim tetap dalam kondisi segar.
“Masaknya itu step by step, masaknya itu sesuai ada jamnya, jadi makanannya kita sajikan tetap fresh. Jadi pengiriman pagi nih itu yang masak di jam 12 sampai ke jam 3. Abis itu kita masak lagi untuk buat pengiriman selanjutnya. Jadinya masakan itu gak ada yang sekaligus 4 ribu, nggak bertahap,” ungkap Ibu Ziah yang menjabat sebagai asisten dapur MBG.
Sementara itu, tak semua anggota tim awalnya terbiasa dengan alat dapur industri berskala besar. Ibu Ziah pun turut menjelaskan proses adaptasi itu.
“Biasanya kita masak pakai panci, sekarang masak pakai steamer. Terus kompor kita semua high pressure, biasanya pakai kompor, itu penyesuaian dari alat,” ungkapnya.
Menariknya dari dapur MBG ini, tenaga masak di dapur mayoritas menggunakan tenaga kerja warga sekitar, sebuah kebijakan yang disadari membantu operasional.
Dengan bahan yang lancar, pembagian peran jelas, sistem pemasakan bertahap, dan koordinasi lintas divisi, dapur MBG mampu menjaga ritme kerja yang stabil. Semua itu dilakukan hampir setiap hari tanpa jeda, sekaligus memastikan ribuan penerima manfaat tetap mendapatkan makanan dalam kondisi terbaik.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
