
Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Arsul Sani menggelar konferensi pers terkait tudingan ijazah palsu di Gedung MK, Jakarta, Senin (17/11). (Ridwan/JawaPos.com).
JawaPos.com - Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) telah memutus dugaan pelanggaran etik yang menyeret nama Asrul Sani. Hakim Konstitusi yang bertugas sejak Januari 2024 itu dinyatakan tidak terbukti melakukan pelanggaran etik, terkait dengan dugaan pemalsuan dokumen ijazah untuk memenuhi syarat menjadi hakim konstitusi.
Atas putusan tersebut, pakar hukum tata negara Denny Indrayana menyampaikan bahwa putusan MKMK harus menjadi rujukan penting dalam menilai proses hukum lain yang sedang berjalan. Sebab, MKMK sudah memeriksa dugaan pelanggaran etik dan menyimpulkan tidak terjadi pelanggaran. Kesimpulan tersebut disampaikan dalam putusan pada Kamis pekan lalu (11/12).
”MKMK berkeyakinan tidak ada pelanggaran etika. Sehingga sebenarnya MKMK meyakini bahwa proses gelar S3 yang diperoleh Pak Arsul itu benar, sehingga tidak ada pelanggaran etika,” terang Denny kepada awak media.
Denny menyampaikan bahwa putusan tersebut memang tidak secara langsung masuk ke ranah pidana lantaran berada di luar kewenangan MKMK. Namun demikian, dia menilai, putusan itu tetap memiliki konsekuensi. Jika tidak ditemukan pelanggaran etika, maka seharusnya tidak ada unsur pemalsuan dokumen.
Lebih lanjut, Denny menyampaikan bahwa proses hukum pidana memang terpisah dari mekanisme etik yang berjalan di MKMK. Hanya saja, dia berpandangan bahwa akan menjadi problematik bila proses pemidanaan berlangsung tidak sejalan dengan putusan MKMK.
”Karena kalau MKMK mengatakan tidak ada pelanggaran etika, harusnya berarti juga pemidanaannya tidak terjadi,” tegasnya.
Meski begitu, Denny kembali menegaskan bahwa MKMK tidak memiliki kewenangan untuk masuk apalagi sampai memutus perkara pidana. Sehingga proses hukum yang berjalan dalam koridor hukum pidana tetap bergantung pada keputusan aparat penegak hukum. Sebab, aparat penegak hukum yang berwenang memproses dan memutus perkara pidana.
”Lagi-lagi, proses pemidanaannya memang bukan kewenangan MKMK untuk memutuskan,” tegasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022