
Keluarga Presiden RI ke-2 Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana dan Titiek Soeharto memberikan sambutan dalam acara Silaturahmi Kebangsaan di Ruang Delegasi, Gedung Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Sabtu (28/9/2024). (Fedrik Tarigan/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) mendesak pemerintah untuk mencabut gelar Pahlawan Nasional yang baru saja diberikan kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto. Mereka menilai keputusan tersebut sebagai langkah yang mengkhianati nilai-nilai sejarah dan nurani bangsa.
Wakil Ketua BEM UI, Brevka Noufalio, menyebut pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto merupakan bentuk pengkhianatan terhadap sejarah panjang perjuangan rakyat Indonesia yang menjadi korban penindasan pada masa Orde Baru.
“Merupakan bentuk pengkhianatan terhadap sejarah dan nurani bangsa. Pemberian gelar ini melukai ingatan kolektif rakyat atas penderitaan yang terjadi selama lebih dari tiga dekade kekuasaan Orde Baru, yang penuh dengan pelanggaran hak asasi manusia, pembungkaman kebebasan, serta praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang mengakar,” kata Brevka dalam keterangan tertulis, Selasa (11/11).
Ia menjelaskan, masa pemerintahan Soeharto tidak bisa dilepaskan dari catatan kelam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) selama 32 tahun masa kekuasaannya. Menurutnya, banyak korban yang hingga kini belum mendapatkan keadilan, termasuk korban penculikan aktivis, tragedi Tanjung Priok, dan peristiwa 1965–1966 yang menelan banyak korban jiwa.
Brevka juga menyoroti sosok Soeharto tidak bisa disetarakan dengan para pahlawan nasional yang berjuang tanpa pamrih demi keadilan dan kemanusiaan.
“Sosok yang pernah menindas, memperkaya kroni, dan menutup ruang demokrasi tidak seharusnya disetarakan dengan para pahlawan yang berjuang menegakkan keadilan dan kemanusiaan,” tuturnya.
Menurut Aliansi BEM se-UI, keputusan pemerintah mencederai semangat reformasi yang justru lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim otoriter Orde Baru.
“Kami menegaskan bahwa Aliansi BEM se-UI menuntut pencabutan gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto,” tegas Brevka.
Tuntutan tersebut bukan sekadar ekspresi kekecewaan, tetapi bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga integritas sejarah bangsa.
Lebih lanjut, Brevka menilai pemberian gelar pahlawan justru menunjukkan adanya upaya manipulasi sejarah demi kepentingan politik jangka pendek.
“Keputusan ini bukan hanya bentuk keberpihakan pada kebenaran, melainkan juga upaya menjaga agar sejarah tidak dimanipulasi demi kepentingan politik sesaat,” pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Prediksi Skor Viktoria Plzen vs Union SG di Liga Europa: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Manchester City vs Norwich: Maresca Rotasi Skuad
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin
Prediksi Skor Real Sociedad vs Bournemouth di Liga Europa: Txuri-urdin Bakal Kesulitan Redam Lawan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022