
Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan tokoh-tokoh GNB di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (11/9). Ia menyetujui usulan membentuk tim reformasi kepolisian. (Setpres)
JawaPos.com - Presiden Prabowo Subianto dikabarkan bakal membentuk komisi atau tim reformasi Polri. Upaya tersebut mendapatkan dukungan publik, selama tujuannya untuk perbaikan sistem korps Bhayangkara.
Dukungan rencana pembentukan tim reformasi Polri itu diantaranya disampaikan Adam Souwakil, Ketua Ikatan Mahasiswa Satu Nusa.
Dia mengatakan bahwa rencana Prabowo itu terdengar progresif dan penuh harapan. Tetapi, di balik gagasan itu tersimpan potensi persoalan serius jika tidak dirancang dengan cermat.
"Karena reformasi kepolisian bukan sekadar proyek politik jangka pendek," katanya, Jumat (12/9) malam.
Lebih dari itu, tim reformasi Polri harus menjadi agenda berkelanjutan yang akan menjamin kredibilitas lembaga penegak hukum sekaligus stabilitas negara.
Dia lantas menyampaikan beberapa hal. Di antaranya, pembentukan tim reformasi Polri bisa berisiko dipahami masyarakat sebagai bentuk ketidakpercayaan Presiden terhadap kepemimpinan Kapolri saat ini.
Jika narasi ini dibiarkan tumbuh, maka legitimasi Kapolri Listyo Sigit Prabowo bisa terkikis hanya karena desakan opini publik yang seringkali bersifat reaktif dan emosional.
"Padahal, setiap pergantian pucuk pimpinan Polri harus didasarkan pada tujuan evaluasi dan pertimbangan strategi," kata Adam. Pergantian pucuk pimpinan Polri bukan sekadar tekanan massa.
Berikutnya, Adam menyampaikan tim reformasi berpotensi menjadi instrumen politik yang dipelintir untuk membenarkan pergantian Kapolri.
Dia khawatir ada pihak-pihak berkepentingan mendorong narasi seolah-olah reformasi tidak mungkin diwujudkan tanpa mengganti pimpinan Polri.
Baginya, logika tersebut keliru sekaligus berbahaya. Karena adanya perbedaan antara reformasi institusional dan rotasi personal.
"Reformasi tidak boleh direduksi menjadi sekadar isu pergantian tokoh," tuturnya. Sebab yang dibutuhkan adalah penguatan sistem, bukan pengorbanan simbolis.
Bagi Adam, Presiden Prabowo harus menyadari bahwa langkah tersebut bisa menjadi bumerang jika tidak diimbangi dengan arah kebijakan yang jelas dan terukur.
Tim reformasi bisa dipandang sebagai "komite ad hoc" yang hanya berfungsi menyampaikan aspirasi publik tanpa menghasilkan perubahan nyata.
Menurut Adam, reformasi membutuhkan konsistensi sejati, bukan reaksioner. Prabowo seharusnya menyatakan bahwa pembentukan tim ini bertujuan memperkuat Polri, bukan sebatas mengganti Kapolri.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
