Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 10 September 2025 | 23.51 WIB

Menkeu Purbaya Blak-blakan Buruknya Kebijakan Ekonomi RI jadi Pemicu Demo hingga Muncul Tagline Indonesia Gelap

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/9/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/9/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan secara blak-blakan soal alasan akhir-akhir ini banyak masyarakat yang mendemo pemerintah hingga muncul tagline Indonesia Gelap.

Menurut dia, salah satu alasannya karena ekonomi RI yang melambat signifikan lantaran begitu buruknya kebijakan dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, kata dia, ekonomi Indonesia sangat didominasi oleh permintaan domestik, alih-alih pada saat itu pemerintah mengungkap sebagai dampak dari ekonomi global.

"Jadi, itu yang Anda rasakan di ekonomi, melambat dengan signifikan, riil sector susah, semuanya susah, banyak keluar tagline-tagline, Indonesia apa? Gelap, Indonesia apa? Kita semua menunjuk gara-gara global. Padahal, ada kebijakan dalam negeri yang salah juga, yang utamanya mengganggu kita, karena 90 persen pada ekonomi kita didrive oleh domestic demand," kata Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (10/9).

Salah satu kebijakan buruk yang ia kritisi dan telah terjadi beberapa tahun belakangan, yakni tidak adanya penambahan uang ke sistem moneter dari sisi fiskal. Padahal, Purbaya menyampaikan, hal itu sempat terjadi pasca Covid-19 tahun 2021, di mana Bank Indonesia yang terlalu banyak mengendapkan uang negara mencapai Rp 500 triliun.

Kemudian, pada Mei 2021 akhirnya uang tersebut dikembalikan ke sistem likuiditas senilai Rp 300 triliun. Dampaknya, kata dia, laju pertumbuhan uang justru naik dari minus 15,3 persen menuju double digit hingga berhasil menyelamatkan ekonomi RI.

Namun, hal buruk kembali terjadi karena sejak tahun 2023 pertengahan, uang justru diserap secara bertahap sampai pertumbuhannya hampir menyentuh nol menjelang Semester II-2024.

Kemudian, menurutnya memasuki tahun 2025 pada Januari-April seluruhnya sudah membaik hingga akhirnya pertumbuhan uang sempat mencapai 7 persen pada bulan April 2024.

"Makanya ketika saya rasakan di bulan April, saya bilang, kita sudah keluar dari krisis, Indonesia akan cerah. Yang saya nggak tahu, Mei jatuh lagi, Juli jatuh, Agustus jatuh ke 0 persen. Jadi, periode perlambatan ekonomi yang 2024 gara-gara uang ketat tadi, dipulihkan sedikit, belum sepulih penuh, direm lagi ekonominya. Itu dari sisi fiskal dan moneter. BI, kita nggak tahu ini pada marah sama saya nggak habis ini, nanti traktir ya," beber dia.

"Pemerintah, karena terlambat membelanjakan anggaran, membelanjakan APBN-nya, uangnya kan dari Bank Sentral. Beliau rajin narik pajak, tak apa-apa, masuk ke Bank Sentral. Kalau dibelanjain lagi, nggak apa-apa. Tapi ini kan nggak, ditaruh sana santai-santai, kering sistem," lanjutnya.

Lebih lanjut, Purbaya juga menilai bahwa demo-demo masyarakat yang terjadi beberapa bulan belakangan adalah dampak dari tekanan ekonomi yang berkepanjangan. Utamanya, dari kesalahan kebijakan fiskal dan moneter.

"Yang Bapak-Bapak rasakan adalah yang kemarin demo itu, itu karena tekanan berkepanjangan di ekonomi, karena kesalahan kebijakan fiskal dan monetar sendiri yang sebetulnya kita kuasai," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore