
Kereta cepat whoosh sudah bikin KAI merugi nyaris Rp 1 triliun, namun pemerintah masih percaya diri untuk melanjutkan rute kereta cepat hingga ke Surabaya. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Saat rencana pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Surabaya mengemuka, muncul pengakuan horor dari PT KAI yang membawahkan KCIC selaku operator whoosh, kereta cepat Jakarta-Bandung. KAI rugi nyaris Rp 1 Triliun! Hanya untuk operasional Whoosh.
Tapi, pemerintah tetap pede menggulirkan rencana pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya meski ada bayang-bayang kerugian sebagaimana dialami KAI.
Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi kepada Menteri Koordinator bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk melanjutkan proyek Kereta Cepat di tanah air.
Dari sebelumnya, hanya Kereta Cepat rute Jakarta-Bandung, rutenya diminta diperpanjang hingga ke Surabaya. Sehingga menjadi Kereta Cepat Jakarta-Surabaya.
"Ada tugas khusus dari Bapak Presiden kepada kami (Kemenko Infrastruktur) untuk mengawal keberlanjutan Kereta cepat. Jadi bukan hanya Jakarta-Bandung, diharapkan sampai dengan Surabaya," kata AHY di Kantor Kemenko Infrastruktur, Jakarta, pada awal Agustus ini.
AHY menyampaikan bahwa instruksi Presiden itu bukan tanpa alasan. Ada harapan besar Prabowo terhadap megaproyek itu, salah satunya membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, sehingga tidak hanya terpusat di Jabodetabek.
Tak hanya itu, proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya juga diharapkan bisa membantu mobilitas barang dan pergerakan orang menjadi lebih lancar di pulau Jawa.
"Ini menjadi salah satu game changer dari mobilitas manusia dan barang, termasuk jasa, yang jauh lebih cepat terhubung melalui sebuah sistem dan ekosistem high speed rail," jelasnya.
Kendati demikian, di balik instruksi Presiden Prabowo kepada AHY, berdasarkan data yang dihimpun JawaPos.com, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung masih membebani keuangan negara.
Pasalnya, biaya pembangunan proyek tersebut membengkak menjadi USD 7,2 miliar, dari sebelumnya diperkirakan hanya menelan biaya sekitar USD 5,13 miliar.
Pembengkakan biaya pembangunan Kereta Cepat yang dinamai Whoosh itu disebabkan oleh berbagai hal. Mulai dari kenaikan biaya pembebasan lahan, permasalahan teknis engineering, procurement, dan constructions (EPC), serta hambatan geologi.
Sebagian besar pembiayaan proyek Whoosh bersumber dari dana pinjaman China Development Bank (CDB).
Saat ini, pengelolaan whoosh diberikan kepada anak usaha PT Kereta Api Indonesia, yakni PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang secara resmi tergabung dalam Joint Venture atau Konsorsium Indonesia-China.
Imbas cicilan utang yang belum kelar, PT KAI bahkan mencatat kerugian nyaris Rp 1 triliun dalam Laporan Keuangan Tengah Tahunan KAI per 30 Juni 2025 Unaudited.
Pada entitas asosiasi dan ventura bersama di PT PSBI, kerugian mencapai Rp 951,48 miliar. Sementara itu, sejak awal tahun 2025 ini, PT KAI telah mengucurkan modal investasi ke PT PSBI mencapai senilai Rp 7,7 triliun.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
