Monumen Pahlawan Proklamator Sukarno-Hatta menjadi simbol kuat peringatan kemerdekaan Indonesia, Jakarta, Jumat (15/8). (Ryandi Zahdomo/Jawapos)
JawaPos.com - Pagi itu, 17 Agustus 1945, suasana Jakarta masih mencekam. Tentara Jepang masih berkeliaran, tetapi semangat rakyat untuk merdeka tak terbendung lagi. Tepat pukul 10.00 WIB, Soekarno berdiri di teras rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur 56. Dengan suara lantang, ia membacakan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Momen itu hanya berlangsung beberapa menit, namun menjadi detik-detik paling bersejarah dalam perjalanan bangsa. Kini, bekas rumah tersebut sudah berubah menjadi Taman Proklamasi, lengkap dengan tugu dan monumen yang terus mengingatkan generasi penerus pada peristiwa monumental itu.
Tak banyak yang tahu, rumah di Pegangsaan Timur 56 awalnya bukanlah milik Bung Karno. Bangunan bergaya Art Deco itu sebelumnya ditempati pejabat Belanda, Baron van Asbeck, lalu digantikan P.R. Feith.
Barulah pada 1942, Soekarno menempati rumah itu bersama istrinya, Inggit Garnasih. Empat tahun kemudian, teras rumah sederhana ini menjadi titik awal lahirnya Republik Indonesia.
"Di Tugu Petir itu tempat Bung Karno membacakan teks proklamasi. Itu dulunya halaman rumah Bung Karno," ujar Ary, salah seorang petugas di Taman Proklamasi kepada JawaPos.com.
Sejatinya terdapat dua lokasi yang menjadi opsi pembacaan teks proklamasi. Yakni, di Lapangan IKADA (sekarang kawasan Monas) dan rumah Sukarno. Namun, Lapangan IKADA itu urung dipilih lantaran masih dijaga ketat oleh tentara Jepang.
Demi keamanan, Bung Karno memutuskan untuk menggelar pembacaan di rumahnya sendiri. Keputusan itu terbukti tepat. Tanpa perlu barisan besar dan panggung megah, justru dari teras rumah sederhana itulah kemerdekaan Indonesia dikumandangkan ke seluruh dunia.
TUGU PERINGATAN SATOE TAHOEN. Dibangun pada 1946 oleh Ikatan Wanita Djakarta. Berbentuk obelisk kecil, tugu ini menandai perayaan setahun kemerdekaan. (Ryandi Zahdomo/Jawapos)
Tugu-tugu Peringatan di Taman Proklamasi
Untuk mengenang detik-detik bersejarah itu, sejumlah monumen kemudian dibangun di lokasi bekas rumah Bung Karno.
Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia
Dibangun pada 1946 oleh Ikatan Wanita Djakarta. Berbentuk obelisk kecil, tugu ini menandai perayaan setahun kemerdekaan. Mereka tergabung dalam organisasi Pemuda Puteri Indonesia (PPI) dan Wanita Indonesia.
Nama-nama seperti Johanna "Yos" Masdani Tumbuan, Mien Wiranatakusumah, Zus Ratulangi (putri Sam Ratulangi), Zubaedah, hingga Nyonya Gerung tercatat sebagai penggeraknya.

Puluhan Orang Terjebak di AEON Mall Kumamoto Usai Gempa Dahsyat M7,1 Diikuti Ledakan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Malik Bawazier Dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Suami Cut Keke Diduga Tersangkut Kasus Perzinaan
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Prediksi Skor hingga Rekor Pertemuan Persebaya vs PSMS: Ayam Kinantan Lebih Unggul Atas Green Force
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Raih 3 Poin Lagi!
Prediksi Skor Port FC vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Pembuktian Magis Shin Tae-yong!
