
Pengunjung memilih beras premium di Hypermart Ciputra World Surabaya, Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (16/7). (Riana Setiawan/Jawa Pos)
JawaPos.com-Penyebab beras premium langka di toko ritel atau minimarket akhirnya terbongkar. Pengelola ritel terpaksa tidak menjual beras premium karena mereka takut diperiksa polisi.Setelah harga resmi diturunkan sesuai harga beras medium, peritel kembali mengeluarkan stoknya.
Keterangan tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin. Dia mengatakan sejatinya ada stok beras premium kemasan 5 Kg.
"Seperti merek Sania atau lainnya. Tapi tidak kami jual dulu," kata Solihin saat dihubungi, Jumat (8/8).
Solihin beralasan mereka takut berpekara dengan kepolisian. Sudah ada kejadian petugas di toko ritel diperiksa polisi setempat. Karena menjual beras premium yang diduga oplosan. Dia menegaskan toko ritel hanya menjual barang, bukan produsen.
"Padahal kami tidak tahu apa-apa. Bukan kapasitas kami memeriksa berasnya benar premium atau bukan. Ada yang diminta jadi saksi atau diperiksa," jelas Solihin.
Ketimbang mengambil risiko berperkara dengan kepolisian, ritel-ritel memutuskan menahan tidak menjual beras premiumnya. Berasnya disimpan dulu di gudang.
Sampai akhirnya sekitar dua hari lalu, Aprindo mengirim surat ke produsen beras. Isinya meminta beras premium diturunkan harganya, sesuai dengan ketentuan harga beras medium. Sehingga ritel aman, tidak akan diperiksa polisi.
"Akhirnya disepakati harganya turun Rp 1.500 per kemasan 5 kg," kata Solihin.
Dia mengatakan dengan penurunan harga tersebut, ritel akan kembali menjual beras premium kemasan 5 Kg. Butuh proses sampai beras-beras itu ada di di rak-rak seperti biasa.
Solihin menegaskan toko ritel sama sekali tidak tahu kualitas beras yang mereka jual. Ketika tertulis beras premium, mereka menjualnya sesuai label. Perkara di dalamnya ternyata kualitas medium, merupakan urusan produsen.
Menurut Solihin stok beras berlabel premium di gudang mereka masih banyak. Mereka saat ini fokus untuk menjual stok yang ada dahulu. Sampai saat ini, belum ada informasi apakah produsen melakukan penggilingan lagi atau tidak.
Solihin mengungkapkan setelah ada kasus beras oplosan, sejumlah produsen mengabarkan berhenti produksi.
Satgas Pangan Mabes Polri merilis daftar tersangka beras oplosan. Atau beras yang dijual tidak sesuai standar. Beras premium memiliki campuran beras patah maksimal 15 persen. Tetapi ternyata kandungan beras patahnya cukup banyak.
Polisi sudah menetapkan enam tersangka kasus beras oplosan. Mereka adalah S, AI, dan DO. Ketiganya berasal dari PT Padi Indonesia Maju (PIM) dengan posisi yang berbeda-beda. Tersangka S merupakan Presiden Direktur PT PIM. Kemudian AI adalah kepala pabrik. Berikutnya DO adalah kepala quality control.
Produk beras premium kemasan dari PT PIM banyak dijumpai di pasar. Di antaranya adalah metek Sania, Fortune, Savia, dan Siip. PT SIM merupakan anak perusahaan dari Wilmar Group. Merek-merek tersebut sudah muncul sejak pemeriksaan digulirkan Satgas Pangan Mabes Polri.

Prediksi Skor Arema FC vs DPMM FC di Piala Presiden 2026! Momentum Singo Edan Lolos ke Semifinal
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026! Maung Bandung Bisa Sapu Bersih Laga
Laporkan Malik Bawazier, Suami Endah Fitrianingsih Jadikan CCTV Bukti Perzinaan
Pelapor Perzinaan Malik Bawazier Dicecar 28 Pertanyaan di Polda Metro Jaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Iran Ubah Strategi Perang, Teheran Kini Sengaja Paksa AS Masuk ke Konflik Lebih Besar
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Staf KPK dari Kepolisian Jadi tersangka Kasus Pemalang, Diduga Peras Bupati Anom
10 Ribu Massa PSHT Gelar Aksi di Surabaya Imbas Konflik DC dan Petugas Valet
