Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Juli 2025 | 23.19 WIB

Mirip Kejadian di Cidahu Sukabumi, Umat Kristen kembali Alami Persekusi di Padang, PGI Sampaikan Kecaman Keras

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Jacky Manuputty. (Humas PGI) - Image

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Jacky Manuputty. (Humas PGI)

JawaPos.com - Belum hilang dari ingatan publik, pengusiran dengan kekerasan aktivitas retret pemuda Kristen di Cidahu, Sukabumi 26 Juni lalu. Kejadian hampir sama terulang di Koto Tengah, Padang, Sumatera Barat. Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengecam keras aksi persekusi atau pelarangan beribadah tersebut. 

Aksi intoleransi itu terjadi pada Minggu (27/7). Video rekaman persekusi tersebar luas di publik lewat media sosial (medsos). Terlihat dengan jelas sejumlah orang mengusir umat Kristen yang sesang berdoa. Bahkan sampai ada yang memecahkan kaca. Kejadian itu menuai kecaman, karena ada anak-anak diantara jemaat yang sedang berdoa. 

"Tindakan tersebut sangat menyesakkan," kata Ketua Umum PGI Pdt Jacky Manuputty. Dia semakin prihatin karena aksi teror disertai kekerasan dilakukan untuk menghentikan kegiatan pelayanan kerohanian di depan anak-anak. Menurut dia, kejadian itu tentunya akan menimbulkan trauma berkepanjangan dalam pertumbuhan anak-anak tersebut. 

Jacky mengatakan, peristiwa di Padang itu, menunjukan bahwa sikap intoleransi masih mengakar di berbagai sudut Indonesia. Padahal menurut dia, Indonesia bukanlah milik satu golongan, satu suku, ataupun satu keyakinan.

Baginya Indonesia adalah rumah besar yang dibangun oleh keberagaman, dijaga oleh persatuan, dan disatukan oleh rasa hormat terhadap perbedaan. Tetapi realitasnya, publik masih melihat tindakan diskriminatif, ujaran kebencian, dan penolakan terhadap hak-hak dasar sesama warga hanya karena perbedaan keyakinan atau identitas.

"Ini bukan hanya menyakitkan, ini berbahaya," tandasnya.

Menurut Jacky, perilaku intoleran adalah racun yang menggerogoti keutuhan bangsa. Dia meminta negara harus hadir untuk menggaransi hak konstitusi setiap warga negara dan kelompok identitas untuk merayakan keberagamannya. Termasuk menjalankan ibadah sesuai agama atau keyakinannya. 

Jacky menegaskan, PGI mengecam dengan keras segala bentuk intoleransi yang terjadi di Indonesia. Masyarakat tidak bisa lagi berpura-pura bahwa kejadian itu hanyalah insiden kecil akibat kesalahpahaman dan sebagainya.

Karena setiap tindakan intoleran adalah ancaman nyata terhadap semangat Bhinneka Tunggal Ika, terhadap cita-cita kemerdekaan, dan terhadap hak asasi manusia. Terhadap permasalahan di Padang itu, PGI mengapresiasi langkah cepat Wali Kota Padang untuk memitigasi dan mengupayakan dialog antarpihak bagi penyelesaian kasus itu.

Serta penanganan trauma bagi anak-anak. PGI juga mendukung langkah hukum yang ditempuh berbagai pihak untuk menyikapi aspek kekerasan dan teror dari peristiwa intoleransi itu. 

"Mari kita lawan kebencian dengan pendidikan, hadapi ketakutan dengan dialog, dan jawab intoleransi dengan toleransi yang berani," jelasnya.

Jacky mengatakan, Indonesia harus menjadi bangsa yang tidak hanya menerima perbedaan. Tetapi juga merayakannya. Karena hanya dengan saling menghargai, Indonesia bisa tumbuh sebagai bangsa yang besar dan bermartabat.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore