Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Juli 2025 | 06.05 WIB

Karhutla Riau Sudah Sampai Malaysia, Menhut Bakal Pidanakan Pembakar Hutan untuk Buka Lahan

Kondisi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Kabupaten Rokan Hilir, Riau pada Senin (21/7). (Foto BNPB) - Image

Kondisi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Kabupaten Rokan Hilir, Riau pada Senin (21/7). (Foto BNPB)

JawaPos.com - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terjadi cukup hebat di wilayah Riau. Aktivitas pembakaran lahan diduga menjadi pemicunya. Apalagi saat ini cuaca di Riau sangat panas, sehingga bisa meningkatkan potensi kebakaran semakin luas. 

Kasus karhutla di Riau menjadi perhatian Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni. Dia mengingatkan masyarakat Riau untuk tidak membakar hutan dan lahan terutama pada 22 - 28 Juli. Karena berdasarkan data BMKG, periode tersebut memiliki potensi sangat mudah terbakar.

"Paling penting untuk disampaikan ke publik, terutama kepada masyarakat Riau agar periode-periode ini tidak ada yang membakar Lahan. Tidak membakar hutan maupun lahan," kata Raja di sela penandatanganan MoU dengan PP Muhammadiyah (22/7).

Dia menambahkan di saat cuaca sangat panas, tingkat risiko terbakar di lapisan-lapisan atas permukaan tanah berpotensi lebih besar. Apalagi data BMKG menunjukkan 10 hari terakhir akan terjadi panas ekstrem. Kemudian juga adanya badai Wipha di Filipina. Faktor ini menimbulkan cuaca yang kering dan mudah terbakar. 

Raja meminta masyarakat untuk tidak melakukan land clearing atau pembakaran lahan dan hutan. Dia menegaskan akan melakukan penegakan hukum tanpa pandang bulu kepada masyarakat maupun perusahaan yang membakar hutan dan lahan. "Jangan berani-berani melakukan land clearing, membersihkan lahan untuk menanam dengan cara pembakaran, karena potensinya sangat luar biasa buruk," ujar Raja.

Dia menegaskan Kemenhut akan melakukan penegakan hukum tanpa pandang bulu dan tanpa segan-segan kepada masyarakat atau perusahaan yang membakar hutan atau lahan di Riau, sepanjang pulau Sumatera, maupun wilayah lainnya. 

Kemenhut telah melakukan koordinasi langsung dengan Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan yang telah memimpin dan turun langsung ke lapangan. Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan Kepala BNPB dan Kepala BMKG yang juga melakukan pengecekan ke lapangan.

Raja Juli juga telah menugaskan Wamenhut Sulaima Umar dan Dirjen Gakkum Kemenhut Dwi Januanto ke lokasi sejak Minggu (20/7) untuk mengawal penanganan Karhutla di Riau.

Berdasarkan data Satelit Himawari milik BMKG mendeteksi sebaran asap yang cukup signifikan, terutama di wilayah Kabupaten Rokan Hilir. Data dari Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan (SiPongi) menyebut Rokan Hilir mencatatkan jumlah titik panas tertinggi di Riau, yakni 1.767 titik. Disusul Rokan Hulu dengan 1.114 titik dan Kota Dumai 333 titik.

Total hotspot sepanjang 1 Januari hingga 20 Juli 2025 mencapai 4.449 titik. Kenaikan tajam terjadi selama Juli dengan 3.031 titik panas terpantau. Situasi sempat memunculkan asap lintas batas pada 19 Juli, tetapi membaik sehari kemudian. Penanganan darurat dilakukan lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) oleh BNPB dan BMKG bersama pihak swasta. Operasi ini sudah memasuki tahap kedua dengan total 14 sortie dan penyemaian 12.600 kg garam (NaCl) ke awan. (wan) 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore