Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 Juli 2025 | 03.37 WIB

Ada Rencana Gugatan dari Brasil, Pemerintah Indonesia Buka Suara Soal Insiden Pendaki Juliana Marins di Gunung Rinjani

Potret Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra. - Image

Potret Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra.

JawaPos.com - Pemerintah Indonesia merespons rencana gugatan Pemerintah Brasil atas insiden yang dialami oleh Juliana De Souza Pereira Marins dalam pendakian di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menyatakan bahwa sejauh ini belum ada satu pun diplomatik dari Pemerintah Brazil terkait dengan insiden yang menewaskan Juliana Marins tersebut. 

Menurut Yusril, Pemerintah Indonesia melalui kementerian dan lembaga negara terkait sudah mengupayakan yang terbaik dalam proses evakuasi Juliana. Kombinasi medan ekstrem, cuaca tidak bersahabat, dan faktor lainnya mengakibatkan Tim SAR butuh kehati-hatian dan waktu untuk menjangkau Juliana.

Mengingat pendaki berusia 27 tahun itu jatuh dan terperosok ke dalam jurang dengan kedalaman mencapai 600 meter. 

”Pemerintah Indonesia sangat concern dan berduka atas kematian warga Brazil, Juliana Marins, akibat terjatuh ke dalam jurang sedalam 600 meter di tebing Gunung Rinjani,” ungkap dia kepada awak media di Jakarta pada Jumat (4/7).

Yusril menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia menilai insiden tersebut sebagai kecelakaan yang dapat dialami oleh setiap pendaki. Apalagi Gunung Rinjani adalah gunung yang tidak mudah ditaklukan. Sebab, gunung tersebut memiliki medan berat dan cuaca di sana kerap berubah dengan cepat hingga menjadi ekstrem. 

Secara terbuka, lanjut Yusril, otoritas terkait juga sudah menyampaikan hasil operasi SAR terhadap Juliana. Bahkan, pihak rumah sakit yang melakukan otopsi terhadap jenazah Juliana telah menjelaskan penyebab kematian pendaki tersebut. Dia disebut meninggal dunia beberapa saat setelah jatuh dan terperosok ke dalam jurang. Pendarahan pada rongga dada menjadi penyebabnya. 

”Pihak keluarga memang mempertanyakan jarak waktu antara saat terjatuh dan kematian, karena mereka berpikir ada keterlambatan datangnya pertolongan. Sementara korban diduga masih hidup. Secara medis, secepat apapun pertolongan datang, upaya untuk menyelamatkan nyawa korban dalam insiden jatuh seperti itu hampir mustahil dapat dilakukan,” beber Yusril. 

Terkait keinginan pihak keluarga melakukan otopsi ulang di Brazil, Pemerintah Indonesia menghormati keinginan itu. Namun, dia memastikan rumah sakit di Indonesia sudah melakukan otopsi dengan standar forensik. Alih-alih terus menjadikan insiden tersebut sebagai polemik, Menko Yusril mengajak semua pihak terus berusaha menjaga hubungan baik antara Indonesia dengan Brazil. Terlebih saat ini Presiden Prabowo Subianto sedang menghadiri pertemuan negara-negara anggota BRICS di Brazil.

”Hubungan baik dan kerja sama bilateral antara Indonesia dan Brasil harus tetap dijaga dan tidak boleh terganggu dengan insiden kematian Juliana Marins ini,” pungkasnya. 

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore