Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Maret 2025 | 20.20 WIB

Tentukan Hari Lebaran, Kemenag Lakukan Rukyat di 33 Titik, Minus Bali karena Nyepi

Sejumlah petugas Imkanur rukyat PWNU DKI Jakarta mengamati Hilal dengan teropong di masjid Hasyim Asyari, Jakarta, Jumat (28/2/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos) - Image

Sejumlah petugas Imkanur rukyat PWNU DKI Jakarta mengamati Hilal dengan teropong di masjid Hasyim Asyari, Jakarta, Jumat (28/2/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pemerintah akan melaksanakan rukyatul hilal secara nasional, Sabtu petang (29/3). Aktivitas memantau hilal itu akan digelar di 33 titik di seluruh Indonesia. Terkecuali provinsi Bali yang bertepatan dengan hari raya Nyepi.

Hasil pantauan tim rukyatul hilal, nantinya akan dibawa dalam sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama Sabtu malam untuk menentukan 1 Syawal atau hari raya Idul Fitri.

Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag), Abu Rokhmad, mengatakan, rukyatul hilal bukan sekadar ritual tahunan, tetapi bagian dari dedikasi terhadap akurasi ilmu falak dan pelayanan umat. Meskipun secara astronomi, hilal diperkirakan berada di bawah ufuk dan sulit terlihat pada Sabtu nanti.

"Ini adalah bagian dari upaya kita memastikan ketepatan hisab serta memberikan kepastian kepada umat Islam mengenai waktu ibadah," ujar Abu, Jumat (28/3).

Rukyatul hilal, lanjutnya, bukan juga sekadar formalitas. Tetapi bentuk penghormatan terhadap metode yang dianut oleh sebagian masyarakat serta upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Apalagi, pergerakan benda langit itu dinamis.

"Rukyat menjadi momen pembuktian bahwa hitungan hisab yang kita gunakan selama ini benar-benar akurat," jelasnya.

Abu menekankan, pentingnya keseimbangan antara ilmu falak dan tradisi keagamaan dalam penentuan awal bulan hijriah. Dia mengatakan bahwa Kemenag hadir untuk menjembatani berbagai pendekatan yang ada agar tetap dalam koridor persatuan.

"Sidang isbat yang akan kita gelar nanti bukan hanya forum pengambilan keputusan, tetapi juga refleksi dari prinsip moderasi beragama yang kita junjung," ungkapnya.

Terkait kesiapan rukyat, dia meminta seluruh tim di daerah untuk merekam pergerakan teleskop. Baik sebelum, saat, dan setelah matahari terbenam sebagai bahan verifikasi ilmiah. Pihaknya ingin, data yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan.

"Bahkan jika hilal tidak terlihat, tetap harus ada laporan lengkap yang dikumpulkan dan dilaporkan ke pusat," katanya.

Selain itu, dia juga menginstruksikan Kantor Wilayah Kemenag untuk menyiapkan alat pemantauan dan mendaftarkan kegiatan rukyat ke pengadilan agama setempat. Jika ada peralatan yang rusak, dia meminta agar segera dilaporkan ke pusat untuk ditindaklanjuti.

Dalam pelayanan umat, Abu menekankan pentingnya komunikasi yang baik kepada masyarakat dan media. Sehingga informasi mengenai rukyatul hilal disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan tidak menimbulkan kebingungan.

Kemenag, tambahnya, menggelar rukyatul hilal dengan standar ilmiah yang tinggi serta pendekatan yang inklusif. Dengan begitu, penentuan awal bulan hijriah di Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari ibadah. "Tetapi juga kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan harmonisasi keberagaman umat," tandasnya. 

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore