
KONSENTRASI: Siswa SMA Labschool Unesa mengikuti pembelajaran tatap muka di Jalan Citra Raya, Lakarsantri, Kamis (24/12). Sekolah diharapkan siap menerapkan kurikulum baru. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
JawaPos.com – Tahun depan pemerintah bakal menerapkan kurikulum anyar. Yakni, kurikulum prototipe. Rencananya, kurikulum tersebut diterapkan bersama dengan kurikulum darurat. Hal itu disampaikan langsung oleh Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Anindito Aditomo pada Kamis (23/12).
Jadi, kurikulum prototipe tidak akan membatasi siswa sekolah menengah atas (SMA) sesuai jurusan IPS, bahasa, dan IPA. Dalam kurkulum tersebut, siswa kelas XI dan XII dapat memilih kombinasi mata pelajaran berdasar minatnya. Pemerintah mencanangkan kurikulum tersebut digunakan di 2.500 sekolah.
Pengamat pendidikan Martadi mengapresiasi langkah pemerintah yang meluncurkan kurikulum prototipe. Menurut dia, spirit kurikulum tersebut adalah memberikan ruang kebebasan kepada para siswa untuk menentukan minat dan bakatnya.
Dengan begitu, lanjut dia, siswa bisa fokus terhadap apa yang diminati. Spiritnya personalized curriculum. Siswa akan memahami apa yang ingin dipelajari hingga bagaimana cara siswa mempelajari ilmu tersebut. ”Hal itu menjadi menarik bagi wajah pendidikan Indonesia. Karena kurikulum ini memiliki nilai lebih,” tuturnya kepada koran ini kemarin.
Martadi menambahkan, ada pekerjaan rumah yang menanti pemerintah ketika menerapkan kurikulum anyar itu. Yakni, bagaimana guru kelas membimbing dan mengarahkan siswa sesuai minat serta bakat. Sangat penting bagi guru mengenali potensi siswa satu per satu. ”Jadi, siswa itu tidak sekadar ikut-ikutan temannya saat mengambil keputusan mata pelajaran apa yang diambil,” paparnya.
Ketua Bidang Pengembangan Profesi Pendidik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu menilai, kurikulum prototipe bisa jadi gagal di tengah jalan apabila implementasinya buruk. Secara substansi, sebetulnya kurikulum prototipe bagus. Mewadahi program Merdeka Belajar, membekali kompetensi siswa pada abad ke-21, dan menguatkan karakter kepancasilaan. Guru dan kepala sekolah perlu memiliki kapasitas untuk menggali kemampuan dan minat siswa dengan baik. Tidak sekadar asal menganalisis.
Terpisah, salah seorang siswa SMA swasta di Surabaya Barat yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, dirinya antusias begitu mendengar kabar tidak ada lagi penjurusan IPA, IPS, dan bahasa. Saat ini dia duduk di bangku kelas XI. ”Saya di IPA. Saya sebetulnya ada passion di bidang non-eksak juga,” ujarnya.

Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Sarwendah Dikabarkan Hengkang dari Rumah Cilandak, Begini Komentar Pihak Ruben Onsu
Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Jeritan Puluhan Tenaga Kesehatan PPPK Paruh Waktu di Balai Kota DKI: Gaji Ke-13 Tak Cair
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
