
UBAH HABIT: Kelas daring #belajarzerowaste D.K. Wardhani kini sudah masuk batch 14 dan punya 849 alumnus dari Aceh sampai Papua. (Dokumentasi Wardhani)
SEBAGAI dosen perencanaan wilayah dan kota, D.K. Wardhani akrab dengan isu-isu sustainable development, termasuk isu lingkungan dan sampah. Dia makin terbuka dengan fakta tata kelola sampah di Indonesia.
Di sisi lain, perempuan yang akrab disapa Dini itu mengamati perilaku masyarakat yang masih kurang aware dengan sampah. ”Perilaku mencampur sampah organik-nonorganik serta buang sembarangan itu sudah membudaya. Jika persoalan sampah hanya diselesaikan di hilir (TPA), bukan di hulu (rumah atau individu), akan sulit,” bebernya.
Dini menerapkan pengetahuan tentang tata kelola sampah mulai dari rumah. Membuat komposter, biopori, menjadi anggota bank sampah, hingga membuat tempat sampah terpilah. ”Sampah itu baru terjadi kalau sisa konsumsi tidak terkelola dengan baik. Itu yang coba saya sosialisasikan kepada masyarakat sehingga muncul pemahaman, kita harus bisa mengelola sisa konsumsi saya supaya tidak jadi sampah,” paparnya.
Dini membuka kelas daring #belajarzerowaste. Ada 12 materi utama dalam 12 pekan pertemuan. ”Pekan pertama pengantar tentang permasalahan yang terjadi. Lalu, kami ajak menghitung sampahnya sendiri. Kami ajak ke TPS terdekat, ngobrol dengan petugas. Baru perlahan diajak untuk mengurangi,” beber mantan dosen sebuah perguruan tinggi negeri tersebut.
Awalnya hanya 30 orang yang bergabung. Kini sudah memasuki batch ke-14 dengan total 849 alumnus yang sudah diwisuda. Pesertanya menyebar di seluruh Indonesia. ”Harapannya, alumni dapat menyebarkan lagi ilmunya ke lingkungan sekitar mereka. Paling tidak di lingkup keluarganya. Jadi, getok tular,” tutur Dini.
Dia sadar bahwa mengubah mindset dan habit tidaklah mudah, butuh effort. Menjaga konsistensi juga jadi tantangan mengingat belum meratanya tata kelola sistem persampahan yang baik di Indonesia, terutama di luar Pulau Jawa. ”Ada peserta atau alumni kelas yang semangat memilah sampah, tapi di kampungnya tidak ada bank sampah. Belum lagi godaan. Mau belanja lupa nggak bawa tas, mau jajan tapi nggak bawa wadah,” lanjut penulis buku Menuju Rumah Minim Sampah itu.
Melalui laman Instagram-nya, Dini gencar membagikan informasi gaya hidup minim sampah. Salah satunya, memperkenalkan pembuatan kompos skala rumah. ”Isu sampah jangan dijadikan isu nomor sekian. Kita nggak akan bisa hidup normal dan nyaman kalau bumi yang kita tinggali tidak lagi bisa menyeimbangkan dirinya dan menyediakan apa yang kita butuhkan,” pesan Dini. Sudah saatnya kita melakukan perubahan cara pandang terhadap sampah mulai dari diri sendiri dan rumah masing-masing. (lai/c7/nor)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
