Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Oktober 2024 | 03.56 WIB

Prevalensi Kekerasan Anak dan Perempuan Turun

ANGKA KEKERASAN TURUN. Prevalensi kekerasan turun dari 61,7 persen pada 2018 menjadi 49,83 persen pada anak laki-laki. (istimewa)

 

JawaPos..com – Hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) dan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2024 resmi dirilis. Kabar baiknya, angka prevalensi kekerasan terhadap anak dan perempuan turun dibanding 2021.

Pada anak laki-laki misalnya. Prevalensi kekerasan turun dari 61,7 persen pada 2018 menjadi 49,83 persen. Lalu, untuk anak perempuan dari 62 persen menjadi 51,78 persen.

Penurunan yang sama juga terjadi untuk prevalensi kekerasan pada perempuan 15-64 tahun. Angkanya turun dari 9,4 persen pada 2016 menjadi 6,6 persen di 2024.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Bintang Puspayoga mengungkapkan, kedua survei sangat penting karena isu kekerasan terhadap perempuan dan anak ini merupakan isu krusial di masyarakat. Survei ini pun akan menjadi dasar penyusunan kebijakan dan program pemerintah ke depan, khususnya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Dari hasil yang ada, kata dia, menunjukkan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 tentang penurunan prevalensi kekerasan terhadap perempuan dan anak telah tercapai.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak telah berjalan dengan baik," ungkapnya dalam peluncuran Hasil SPHPN dan SNPHAR di Jakarta Senin (7/10).

Lebih lanjut, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KemenPPPA Ratna Susianawati menjabarkan, bahwa dari hasil survei 2024, terjadi penurunan prevalensi kekerasan seksual dan/atau fisik terhadap perempuan oleh pasangan dan/atau selain pasangan.

Penurunan ini terdeteksi baik dalam setahun terakhir yang turun 2,1 persen maupun dalam pengalaman seumur hidup sebesar 2 persen, jika dibandingkan dengan tahun 2021.

Hasil SPHPN juga menunjukkan bahwa pada tahun  2024 prevalensi kekerasan berbasis gender online (KBGO) pun terpantau menurun dari hasil SPHPN ini. Pada usia 15-19 tahun misalnya, prevalensi angka KBGO pada perempuan selain oleh pasangan selama hidup turun dari 23, 1 persen pada 2021 menjadi 14,6 persen di 2024.

"Penurunan juga terjadi pada prevalensi angka KDRT yaitu sebesar 2,5 persen," ungkapnya. 

Ratna menjelaskan, pada SPHPN 2024 metode analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan kualitatif. Survei dilakukan di 38 provinsi di Indonesia pada 14.240 rumah tangga yang tersebar di 1.424 blok sensus.

Selain itu hasil tahun 2024 dikomparasikan dengan data hasil analisis tahun SPHPN 2021 dan 2016 yang telah terangkum dalam laporan hasil analisis SPHPN 2021. Sementara untuk studi kualitatif SPHPN dilakukan dengan wawancara mendalam dan berkelompok di lima Kabupaten/Kota.

"Hasil studi kualitatif menunjukkan peningkatan pengetahuan dan kesadaran kekerasan diekspektasikan dapat menurunkan kekerasan terhadap perempuan," jelasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore