ANGKA KEKERASAN TURUN. Prevalensi kekerasan turun dari 61,7 persen pada 2018 menjadi 49,83 persen pada anak laki-laki. (istimewa)
JawaPos..com – Hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) dan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2024 resmi dirilis. Kabar baiknya, angka prevalensi kekerasan terhadap anak dan perempuan turun dibanding 2021.
Pada anak laki-laki misalnya. Prevalensi kekerasan turun dari 61,7 persen pada 2018 menjadi 49,83 persen. Lalu, untuk anak perempuan dari 62 persen menjadi 51,78 persen.
Penurunan yang sama juga terjadi untuk prevalensi kekerasan pada perempuan 15-64 tahun. Angkanya turun dari 9,4 persen pada 2016 menjadi 6,6 persen di 2024.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Bintang Puspayoga mengungkapkan, kedua survei sangat penting karena isu kekerasan terhadap perempuan dan anak ini merupakan isu krusial di masyarakat. Survei ini pun akan menjadi dasar penyusunan kebijakan dan program pemerintah ke depan, khususnya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Dari hasil yang ada, kata dia, menunjukkan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 tentang penurunan prevalensi kekerasan terhadap perempuan dan anak telah tercapai.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak telah berjalan dengan baik," ungkapnya dalam peluncuran Hasil SPHPN dan SNPHAR di Jakarta Senin (7/10).
Lebih lanjut, Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KemenPPPA Ratna Susianawati menjabarkan, bahwa dari hasil survei 2024, terjadi penurunan prevalensi kekerasan seksual dan/atau fisik terhadap perempuan oleh pasangan dan/atau selain pasangan.
Penurunan ini terdeteksi baik dalam setahun terakhir yang turun 2,1 persen maupun dalam pengalaman seumur hidup sebesar 2 persen, jika dibandingkan dengan tahun 2021.
Hasil SPHPN juga menunjukkan bahwa pada tahun 2024 prevalensi kekerasan berbasis gender online (KBGO) pun terpantau menurun dari hasil SPHPN ini. Pada usia 15-19 tahun misalnya, prevalensi angka KBGO pada perempuan selain oleh pasangan selama hidup turun dari 23, 1 persen pada 2021 menjadi 14,6 persen di 2024.
"Penurunan juga terjadi pada prevalensi angka KDRT yaitu sebesar 2,5 persen," ungkapnya.
Ratna menjelaskan, pada SPHPN 2024 metode analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan kualitatif. Survei dilakukan di 38 provinsi di Indonesia pada 14.240 rumah tangga yang tersebar di 1.424 blok sensus.
Selain itu hasil tahun 2024 dikomparasikan dengan data hasil analisis tahun SPHPN 2021 dan 2016 yang telah terangkum dalam laporan hasil analisis SPHPN 2021. Sementara untuk studi kualitatif SPHPN dilakukan dengan wawancara mendalam dan berkelompok di lima Kabupaten/Kota.
"Hasil studi kualitatif menunjukkan peningkatan pengetahuan dan kesadaran kekerasan diekspektasikan dapat menurunkan kekerasan terhadap perempuan," jelasnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
