
TIGA BERSAUDARA: Chico (kiri) dan Ester mengapit kakak mereka, Chikita, di Bandara Soekarno-Hatta (6/5).
Keberhasilan Chico menjadi bagian skuad juara Piala Thomas 2020 yang memotivasi Ester untuk bisa masuk skuad Piala Uber. ’’Bro-sis moment’’ biasanya saat Ester ingin curhat kepada Chico.
RIZKY AHMAD FAUZI -DIMAS RAMADHAN, Jakarta
---
BUTUH empat tahun bagi Ester Nurumi Tri Wardoyo untuk mencapai mimpi yang terinspirasi dari capaian sang kakak, Chico Aura Dwi Wardoyo. Menembus skuad Piala Uber.
Dan, pebulu tangkis kelahiran Jayapura, Papua, 18 tahun lalu itu melangkah lebih jauh dalam turnamen di Chengdu, Tiongkok, tersebut. Dia berperan penting atas lolosnya Merah Putih sampai ke final. Di partai puncak menghadapi tuan rumah, meski akhirnya kalah, dia satu-satunya penggawa Indonesia yang memaksa lawan bermain rubber game.
Capaian sang kakak yang menginspirasinya adalah saat tim Piala Thomas Indonesia menjuarai edisi 2020 di Aarhus, Denmark.
’’Dari situ saya bertekad bisa menjadi bagian tim (Uber) dan baru terwujud tahun ini,” ungkapnya.
Keberadaan kakak-beradik Chico-Ester dalam satu tim Thomas-Uber di satu edisi juga menjadi sejarah. Mengulangi torehan Eddy Hartono-Hariyanto Arbi di edisi Piala Thomas 1994 Jakarta dan Indra Widjaja-Candra Wijaya dalam Piala Thomas 1998.
Untuk kakak-beradik putra-putri sebelumnya tercatat atas nama Rudy Hartono-Utami Dewi. Namun, saat itu Piala Thomas dan Uber tidak berlangsung bersamaan. Rudy mengoleksi juara di empat edisi (1970, 1973, 1976, 1979) dan dua runner-up (1967, 1982). Sedangkan Dewi menjadi bagian tim Indonesia juara di edisi 1975 serta finalis edisi 1969 dan 1972.
Chico yang berusia enam tahun lebih tua sudah menjadi motivasi sang adik sedari kecil. ’’Dari umur 6 tahun, saat aku masih di Papua,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, awal Mei lalu.
Ternyata Ester kemudian jatuh cinta dengan badminton. ’’Aku senang abis itu, aku jadi kayak pengin mimpinya tinggi mau jadi kayak Susy (Susanti),’’ katanya.
Chico sendiri pertama kenal badminton dari sang papa. ’’Tapi, saya cuma diajak aja, belum main. Lama-lama saya lihat orang main jadi suka, jadi mulai coba-coba. Pas kelas III SD,’’ tutur pemain kelahiran Jayapura, 15 Juni 1998, itu.
Di Papua sangat jarang ada tempat bermain badminton. ’’Terus klubnya juga cuma ada dua. Jadi, pertandingan agak minim,’’ ungkapnya.
Chico kali pertama pindah ke PB Exist saat duduk di bangku kelas X SMA pada 2013. Waktu itu dia diajak Gabriela Moningka bersama sang kakak tertua, Chikitha Wardoyo.
Saat Ester mengikuti jejaknya ke Exist sekitar 2014/2015, keduanya sempat terpisah. Sebab, Chico mulai magang di pelatnas dan Ester baru merintis di klub barunya tersebut.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Santri Cilik Tegur Bacaan Alquran Nusron Wahid: Ayat Alquran Jangan Diacak-acak!
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Brentford vs Sunderland di Liga Inggris: The Bees Berpeluang Gasak Tim Tamu!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
