
Stok sayur pada pusat perbelanjaan/ Sumber: pixabay
JawaPos.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan teknologi ozon yang dipakai untuk pengawetan bisa menjadi solusi untuk mengurangi food loss atau sampah makanan terutama pasca panen.
Menurut laman resmi BRIN yang dikutip JawaPos.Com, Sabtu (25/11), food loss merupakan istilah sampah makanan yang berasal dari bahan pangan seperti sayuran, buah-buahan atau makanan yang masih mentah namun sudah tidak bisa diolah menjadi makanan dan akhirnya dibuang begitu saja.
Sedangkan food waste merupakan makanan yang siap dikonsumsi oleh manusia namun dibuang begitu saja dan akhirnya menumpuk di TPA.
Indonesia termasuk negara yang berada pada urutan ketiga dari bawah jika dilihat dari food loss dengan perkiraan 300 kg per orang per tahun.
”Ini suatu kondisi yang menurut saya sangat miris. Di satu sisi produksi pertaniannya sangat tinggi tapi disisi lain banyak membuang produk pertanian yang mengakibatkan kita impor jadinya,” ujar Anto Tri Sugiarto, Analis Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Ahli Madya dari Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Webinar Nasional yang bertajuk 'Teknologi Ozon untuk Penanganan Pasca Panen Komoditas Pertanian' pada Kamis (23/11)
Kontribusi food loss di Indonesia diperkirakan terjadi 5 hingga 20 persen. Dimulai dari saat di perkebunan dan ladang, di gudang penyimpanan, proses pemasaran, di perjalanan dan pemasaran.
“Salah satu penyebab food loss ini adalah adanya mikroba yang mengakibatkan hasil pertanian menjadi tidak bertahan lama,’’ sorot Anto.
Periset Teknologi Tepat Guna BRIN, Anto Tri Sugiarto, menyebutkan dalam perkembangan teknologi pengawetan, teknologi ozon termasuk kedalam teknologi non thermal yang dianggap bisa menjadi solusi untuk mengurangi food loss terutama dari pasca panen.
Aplikasi ozon yang berupa gas maupun cair bisa membunuh mikroba, virus, jamur dan bakteri yang lebih baik dari ultraviolet sehingga hasil pertanian bisa disimpan lebih lama.
"Gas ozon merupakan allotrope sebagai bentuk lain dari gas oksigen dan prosesnya secara alami terbentuk di alam," kata Anto
Selai itu, Anto juga menjelaskan jika pada siang hari, sinar matahari cukup terik menghasilkan ozon di alam walaupun dengan jumlah yang tidak terlalu banyak. Adapun pada musim hujan biasanya pada saat banyak petir, elektron ini mengakibatkan ozon terbentuk juga.
“Ozon tidak hanya ada di alam tapi sekarang juga bisa diproduksi dengan salah satunya teknologi plasma maupun ultraviolet," sebutnya.
Komoditas hortikultura mengalami kehilangan hasil pertanian (postharvest losses) sekitar 35% bahkan bisa mencapai 50%.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
