Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Juli 2023 | 15.16 WIB

74 Tahun Jawa Pos: Ruang, Waktu, Serem, Seru!

Leak Kustiyo


SABTU
Pon hari ini, genaplah umur Jawa Pos yang ke-74 tahun. Usia yang mengantarkan kami untuk segera menapaki ruang baru di usia ke-75: platinum!

Tahapan perjalanan yang biasa digambarkan sebagai logam langka berwarna putih berkilau dengan nuansa keperakan. Yah, boleh juga dimirip-miripkan kayak warna rambut Ganjar Pranowo atau rambut Profesor Mohammad Nuh yang tidak tersentuh semir.

Seperti halnya kita semua, ketika umur sampai pada titik ini, kesadaran yang muncul adalah betapa semakin sedikit teman seangkatan –sesama koran– yang masih tersisa. Teman-teman lama pergi satu demi satu dengan sebab dan caranya masing-masing. Dan pada akhirnya, waktu jualah yang menjadi alat uji terbaik untuk mengukur daya hidup, kesetiaan, dan komitmen sebuah surat kabar.

Juga, hanya waktu yang akan menjadi ’’proof’’ apakah perusahaan koran sebenarnya perlu mati atau tidak. Karena meskipun usia akan terus bertambah, dia –sebagai perusahaan– sesungguhnya memiliki perangkat untuk terus menjaga keberlangsungan hidupnya agar tetap fit, tidak reumatik, terkapar, lalu pergi menghilang.

Ya, di hari yang membahagiakan ini, kami berterima kasih untuk Kompas, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, dan teman-teman media cetak lain, yang berkomitmen untuk terus menjaga degup industri media cetak.

Tentu, nama-nama lama itu adalah para pemain media digital juga di era sekarang.

Namun, andaikan umur panjang harian Jawa Pos tidak laik untuk disebut prestasi –karena hanya sekadar bertambah usia– pun kami tetap bersyukur. Bersyukur atas daya tahan tim kami dalam memercayai nilai-nilai baik. Daya tahan redaksi dalam menjaga independensi sikap. Bersyukur dalam nikmat hidup dengan ketaatan pada tata laku media. Dan yang pokok, bersyukur karena Jawa Pos terus sehat!

*

Ada peristiwa penting di tahun berjalan. Ada banyak peristiwa sangat penting pada tiga tahun terlewat, yaitu pada masa-masa kita didera pandemi. Serem, tapi ya sudahlah. Sudah lewat. Alangkah baiknya jangan terlalu banyak diingat.

Yang akan datang jauh lebih penting. Karena di sanalah kita dihadapkan pada dua pilihan: serem atau seru! Yang serem akan selalu ada. Yang seru harus kita ciptakan.

Penting buat Jawa Pos untuk punya sikap mudah membentuk diri menghadapi ruang-ruang baru di era serba buatan. Dengan catatan, tetap memegang teguh hal-hal yang fundamental.

Tausiah Profesor Yuval Noah Harari, tak ada satu pun jenis ilmu yang akan betul-betul siap untuk menghadapi –atau melawan– kekuatan dan keberengsekan AI. Dia akan terus merangsek menguasai semua ruang kita.

Nanti, yang bakal tersisa buat kita mungkin tinggal rasa kemanusiaan sebagai manusia. Itu pun kalau kita masih punya. Berpikir cepat, otak cerdas, sudah menjadi hal murah tanpa perlu sekolah. Dan ingat, cita-cita tertinggi AI berikutnya adalah: bisa trenyuh, tersentuh, haru, sedih, geli, iba, memiliki apa itu cinta, dan rasa bahagia.

Fenomena Kadrun-Kecebong, jalan tol versus jalan sesat, tak perlu terlalu dirisaukan. Ia hanya akan menjadi paradoks kesementaraan menuju ke sana. Ke sana yang tidak akan jauh-jauh amat jarak tempuhnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore