Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 Mei 2022 | 01.59 WIB

Teknologi, SDM, dan Pembiayaan Jadi Kunci Pemerataan Kesehatan Global

Ketua DPN IAI, Prof. Mardiasmo menyerahkan buku IAI Peduli Covid-19: Percepatan Penanganan Covid-19 dari Perspektif Akuntan, Kontribusi Pemikiran Akuntan Indonesia, Refleksi 63 Tahun IAI (1957-2020) kepada Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartar - Image

Ketua DPN IAI, Prof. Mardiasmo menyerahkan buku IAI Peduli Covid-19: Percepatan Penanganan Covid-19 dari Perspektif Akuntan, Kontribusi Pemikiran Akuntan Indonesia, Refleksi 63 Tahun IAI (1957-2020) kepada Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartar

JawaPos.com - Dalam tingkatan global, sebanyak 5,16 miliar orang atau sekitar 67 persen populasi dunia telah menerima dosis vaksin Covid-19. Meskipun demikian, pelaksanaan vaksinasi belum merata di seluruh dunia karena masih ada negara-negara yang belum mendapatkan akses vaksin dengan mudah.

Untuk itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kembali menegaskan, berbagai upaya untuk pemerataan vaksin secara global perlu terus dilakukan. Ia juga menyampaikan pentingnya peningkatan ketahanan kesehatan global yang dapat dicapai dengan teknologi, sumber daya manusia, dan pembiayaan yang memadai.

"Di bidang teknologi, ada kebutuhan mendesak untuk mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara sektor publik dan swasta untuk melipatgandakan investasi dalam RnD vaksin dan pusat manufaktur vaksin," jelas Airlangga, Kamis (26/5).

Pengembangan vaksin juga harus mempertimbangkan karakteristik khusus suatu negara. Misalnya, vaksin berbasis mRNA akan lebih murah jika diproduksi di negara dengan bahan baku yang melimpah dan mudah didapat, seperti Indonesia.

Lebih lanjut, Menko Airlangga juga berbicara mengenai pentingnya SDM kesehatan dunia. Bagi negara maju, penurunan pertumbuhan penduduk dan fenomena silver economy telah mempersulit regenerasi talenta di bidang kesehatan.

Untuk negara berkembang, tantangannya berkisar pada biaya tinggi untuk sekolah kedokteran, distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata (seperti yang ada di daerah terpencil), dan kurangnya pelatihan berbasis kompetensi.

Terakhir, dia menggarisbawahi tentang persoalan pembiayaan yang menjadi inti dari setiap inovasi dan kebijakan. Karena biaya perawatan kesehatan secara global terus meningkat, maka semua pemangku kepentingan harus didorong untuk menerapkan pembagian biaya dan perbedaan biaya.

“Kita juga perlu bersiap menghadapi pandemi di masa depan. Oleh karena itu, melalui Joint Finance and Health Task Force, G20 sepakat untuk tidak mengabaikan kesenjangan pembiayaan dalam kesiapsiagaan dan respons pandemi (pandemic preparedness and response) dan menjajaki pembentukan mekanisme pembiayaan baru,” pungkasnya.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore