
ONLY FOR CLINICAL TRIAL: Petugas kesehatan menunjukkan contoh vaksin saat simulasi uji klinis, Kamis (6/8). (TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)
JawaPos.com – Mulai November 2020 hingga Maret 2021, Bio Farma akan menerima bulk atau konsentrat vaksin Covid-19 ready to fill (RTF) dari Sinovac. Jumlahnya mencapai 50 juta dosis. Hal itu sesuai dengan penandatanganan preliminary agreement of purchase and supply of bulk production of Covid-19 vaccine Kamis lalu (20/8) di Hainan, Tiongkok.
Pengiriman bulk dari perusahaan yang berkantor pusat di Tiongkok itu tidak akan sekaligus. Sebanyak 10 juta dosis pertama bakal dikirim pada November. Lalu, Desember dikirim kembali sebanyak 10 juta dosis.
Akan diteruskan pada Januari hingga Maret 2021 dengan jumlah yang sama setiap bulan.
Baca juga: Sinovac Pasok Bahan Baku Vaksin Covid-19 ke Biofarma
Ketua Pelaksana Komite Pemulihan Ekonomi Nasional (KPEN) Erick Thohir sebelumnya menyampaikan, dalam agreement tersebut, Bio Farma tidak sekadar mengolah dan mendistribusikan. Tetapi, ada unsur transfer teknologi. ”Kerja sama dengan Sinovac adalah win-win. Menyepakati transfer knowledge dan transfer teknologi,” ucap Eric Kamis lalu.
Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengungkapkan, bulk pertama yang datang pada November tidak akan langsung diproduksi. Tetapi, bakal dilakukan serangkaian pengujian dan proses registrasi di BPOM. Kegiatan itu dilakukan sampai pada akhirnya vaksin siap diproduksi. ”Setelah proses-proses tersebut selesai, Bio Farma akan melanjutkan proses filling and packaging untuk menjadi produk akhir. Sehingga di dalamnya terdapat komponen tingkat kandungan dalam negeri (TKDN),” ungkapnya.
Bio Farma sudah mempersiapkan fasilitas produksi vaksin Covid-19 dengan kapasitas 100 juta dosis pada Agustus ini. Pada akhir Desember, ada tambahan kapasitas produksi sebanyak 150 juta dosis.
Secara terpisah, Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga menjelaskan, ada empat alasan yang mendasari kerja sama dengan Sinovac. ’’Sinovac itu termasuk perusahaan pertama di dunia yang membuat vaksin korona,’’ ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (21/8). Alasan kedua, Sinovac sebelumnya pernah bekerja sama dengan Bio Farma. Latar belakang itu membuat RI lebih mantap menggandeng Sinovac.
Baca juga: BPOM Sudah Miliki Pedoman Uji Klinis Obat Covid-19
Ketiga, Sinovac merupakan perusahaan pembuat vaksin terbesar di dunia. ’’Lalu keempat, ada alih teknologi antara Bio Farma dengan Sinovac. Tapi, tentu kita tetap buka kerja sama dengan yang lainnya juga,’’ imbuhnya. Misalnya, dengan CEPI yang dimiliki Bill Gates, WHO, hingga AstraZeneca.
Kepala Divisi Surveilans dan Uji Klinik Bio Farma Novilia Sjafri Bachtiar menambahkan, Sinovac sudah mempunyai produk vaksin kategori inactivated virus. Atau virus yang dilemahkan. Vaksin jenis tersebut sering digunakan di Indonesia. Selain itu, Sinovac memiliki produk yang berstatus WHO PQ (prequalification).
Secara lebih spesifik, Novilia mengatakan bahwa teknologi vaksin dengan kandungan virus yang dilemahkan sudah dikenal di dunia medis dan digunakan cukup lama. Kemudian, kelebihan lainnya tidak perlu menggunakan special injection device. Lalu, di daftar kandidat vaksin Covid-19, inactivated virus masuk kategori advance atau lebih maju.
Saat ini kandidat vaksin kategori virus yang dilemahkan tidak hanya dibuat Sinovac. Tetapi, juga dibuat oleh Wuhan Institute of Biological Product dan Beijing Institute of Biological Product. Tiga bakal vaksin tersebut sama-sama masuk tahap uji klinis fase III.
Baca juga: BPOM Minta Lengkapi Data Uji Klinis Obat Covid-19
Pada bagian lain, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dan Erick Tohir sedang berada di Uni Emirat Arab (UEA). Rencananya, keduanya akan melakukan pertemuan dengan Menlu UEA dan G42. Sama seperti lawatan ke Tiongkok, salah satu tujuan kunjungan itu membicarakan kesepakatan dan memantau pengembangan vaksin Covid-19.
Indonesia bahkan telah mengirimkan tim khusus untuk memantau uji klinis fase III kandidat vaksin Covid-19 yang disiapkan Sinopharm dan G42. Hal itu ditegaskan Retno setelah bertemu Wakil Presiden Sinopharm di Sanya, Tiongkok, Kamis (20/8). Sebagai informasi, G42 asal UEA sedang melakukan uji klinis fase III vaksin Covid-19 bersama produsen vaksin asal Tiongkok Sinopharm. ”Besok pagi (Jumat, Red) insya Allah kami akan berangkat menuju Abu Dhabi,” ujar Retno dalam temu media Kamis malam (20/8).
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=T-QAkpWpTXw

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
