
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance ( INDEF) Enny Sri Hartati.
JawaPos.com – Kabar duka datang dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). Salah satu senior INDEF, Enny Sri Hartati meninggal dunia pada hari ini Kamis (1/7) pukul 19.55 WIB.
Kabar tersebut dibenarkan oleh salah satu rekan kerjanya yaitu ekonom Eko Listiyanto saat dikonfirmasi oleh JawaPos.com. Covid-19 menjadi penyebab kematiannya di RSI Pondok Kopi.
"Iya benar (meninggal dunia)," ujarnya, Kamis (1/7).
Sebagai informasi, sepanjang kariernya, wanita yang lahir di Karanganyar, Jawa Tengah ini pernah menjadi staf ahli Komisi X DPR RI (2007-2010) dan mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti (1996-2011) sebelum menjadi Direktur INDEF.
Enny menyelesaikan gelar doktor program studi Ilmu Pertanian dengan konsentrasi Ekonomi Pembangunan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia memperoleh gelar sarjana dari jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan di Universitas Diponegoro (Undip).
Enny juga aktif menulis opini atau kolom di berbagai media cetak nasional dan menjadi narasumber di berbagai seminar dan diskusi yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah seperti lembaga tinggi negara, BUMN, korporasi, asosiasi, media, partai politik, dan lembaga swadaya masyarakat (NGO). Enny juga kerap tampil di berbagai talk show di media elektronik dan radio.
Rekannya sesama ekonom di INDEF Didik J Rachbini memandang, sosok Enny merupakan seorang perempuan yang gigih, tegar, dan mau bekerja keras dalam kariernya. Semasa hidup, almarhum merupakan ekonom INDEF generasi kedua setelah Faisal Basri.
"Orang yang tekun dan berhasil melanjutkan INDEF menjadi suatu lembaga yang sukses dari generasi sebelumnya," kata Didik saat dihubungi oleh JawaPos.com, Kamis (1/7).
Didik mengenang ketika pertama berkarier di INDEF sekitar 1990an. Enny dikenalnya sebagai sosok aktifis muda yang memiliki keingintahuan tinggi di bidang akademik.
"Sejauh ini sebagai perempuan yang tegar bekerja keras. Dari muda merupakan aktifis yang selalu mencari karier di bidang akademik dan sebagai ekonom yang bekerja keras," ungkapnya.
Bahkan, kata Didik, saat terpapar Covid-19 pun Enny masih memikirkan kondisi perekonomian Tanah Air. Sehingga, Didik berharap pemerintah betul-betul serius dalam menangani pandemi ini.
"Terpapar Covid-19 cukup berat kondisinya di RS penuh. Sempat masuk namun belum berhasil. Yang penting sampaikan kepada pemerintah Covid-19 sangat berbahaya. Kondisi RS penuh yang oksigennya juga kosong karena dipakai di mana-mana," katanya.
"Pemerintah nggak boleh main-main. Bahkan di saat-saat terakhir masih mikir ekonomi. Pokoknya jangan berulang karena korban (jatuh) sangat banyak," pungkasnya.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
