
Menko PMK Muhadjir Effendy dalam konferensi pers Melindungi Indonesia dengan Rapid Test Buatan Anak Negeri di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Kamis (9/7/2020). Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy, menyatakan kualita
JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, mengatakan bahwa tidak mudah menangani permasalahan stunting. Terutama dalam upaya mengubah perilaku masyarakat. Oleh karena itu perlu adanya kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan.
Ia menyebutkan, target capaian penurunan angka stunting pada tahun 2024 menjadi 14 persen. Di mana berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 2019, angka stunting Indonesia berada di angka 27,6 persen.
Saat ini, meskipun terjadi pandemi, masalah tersebut tidak dapat diabaikan. Pengabaian ini akan memberikan risiko di jangka panjang atau berdampak ketika memasuki usia produktif.
’’Mari bersama-sama berperang melawan stunting. Apa yang kita lakukan, panennya pada 20 tahun yang akan datang, ketika mereka masuk usia produktif. Penanganan stunting sangat menentukan masa depan bangsa. Stunting sangat berpengaruh pada pembangunan SDM. Arahan Presiden bahwa stunting harus ditangani dengan serius oleh tim khusus, dalam hal ini kini ditangani oleh BKKBN,’’ ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/11).
Sementara itu, Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro menuturkan, masalah stunting pada balita dan anemia pada wanita usia subur merupakan kasus yang mendapat perhatian di global. Hal tersebut akan berdampak negatif terhadap kualitas SDM hingga tiga generasi ke depan.
Untuk itu, bersama kolaborasi seluruh pihak dalam memperbaiki status gizi di periode 1000 Hari Pertama Kehidupan atau 1000 HPK dirasa akan memperbaiki kualitas bangsa Indonesia. "Bahaya stunting terhadap pencapaian SDG, memberikan dampak ekonomi yang sangat besar. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga, dan masyarakat akan turut mendukung tercapainya target penurunan angka stunting pada tahun 2024,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Endang L. Anhari Achadi mengatakan, stunting merupakan salah satu indikator dari permasalahan lainnya yang lebih serius, seperti kemampuan kognitif anak Indonesia dan risikonya di kemudian hari terhadap berbagai penyakit kronis atau penyakit tidak menular.
’’Penting memperkokoh kesadaran semua pemangku kepentingan akan bahaya akibat stunting terhadap pencapaian SDG’s, bonus demografi, dan Indonesia emas pada 2045, serta mengambil pelajaran baik dari negara-negara lainnya,’’ ungkap dia. (*)
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=SiHFe030oyE

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
