
Anggota Komisi VI DPR RI Rieke Diah Pitaloka
JawaPos.com - Covid-19 bukan hanya bencana nasional, tetapi sudah berskala global. Meski tetap melakukan kerja sama, setiap negara pasti akan memprioritaskan kepentingan bangsa dan negara mereka masing-masing.
Oleh karena itu, anggota Komisi VI DPR, Rieke Diah Pitaloka memberikan masukan kepada pemerintah untuk mempraktikkan Indonesia Science Based Policy. Kebijakan Berbasis Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nasional ini sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional IPTEK.
Politikus PDIP itu yakin, Menteri Kesehatan (Menkes) pasti menyadari bahwa tidak mungkin Covid-19 ditangani tanpa mitigasi yang matang. Rencana mitigasi tidak mungkin ada tanpa pemetaan penyebaran virus.
"Penyebaran virus sangatlah tidak mungkin tanpa riset uji sampel virus Covid-19," katanya kepada JawaPos.com, Sabtu (28/3).
Oleh karenanya, riset deteksi penyebaran dan antisipasi mutasi virus Covid-19 juga harus segera dilakukan. Dan untuk melakukan hal ini, tentu dibutuhkan SDM yang melakukan pengujian.
"Risikonya tinggi bagi penguji sampel virus Covid-19, sehingga perlu ada penguatan dan pelatihan khusus bagi SDM riset. SDM di Balitbangkes tidak cukup dan kerja mereka sudah luar biasa berat," lanjut Rieke.
Atas dasar itu, Rieke memberikan beberapa rekomendasi. Pertama, sesegera mungkin memperkuat dan memperbanyak SDM riset untuk penanganan mikroorganisme patogen semacam SARS-CoV2(Covid-19) yang ditugaskan uji sampel di seluruh provinsi.
Kedua, mendukung upaya dan terobosan LIPI yang bekerja sama dengan Kemenristek untuk mengadakan pelatihan penanganan Covid-19. Ketiga, meminta Menkes untuk membuka akses informasi dan penggunaan sampel virus Covid-19 bagi lembaga riset nasional.
Keempat, meminta Menkes mengonsolidasikan seluruh SDM IPTEK yang memiliki kepakaran terkait Covid-19 untuk segera menyusun rencana strategi riset, mitigasi, dan implementasinya. Kelima, mendukung pemerintah segera melakukan pengadaan reagen untuk mengekstrak rantai virus (RNA) dan primer untuk mesin PCR penguji RNA.
"Saat ini, informasi yang saya terima, reagen dan primer untuk keperluan uji sampel virus Covid-19 masih tergantung impor dan sulit didapatkan," katanya.
Keenam, mendukung pemerintah untuk melakukan riset dan inovasi pengembangan, serta produksi reagen untuk ekstraksi RNA dan primer untuk uji RNA dengan PCR secara mandiri di Indonesia. "Demikian masukan ini saya sampaikan semata agar tidak ada disorientasi kebijakan terkait Covid-19," pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
