
China Coast Guard 5302 di perairan ZEE Indonesia Laut Natuna Utara yang terus diadang KRI, Senin (6/1). F. TNI AL Untuk Batam Pos
JawaPos.com – Polemik dugaan pelanggaran kedaulatan yang dilakukan Tiongkok di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Indonesia, masih bergulir. Masing-masing negara ngotot mempertahankan argumentasi.
Indonesia sendiri telah mengirimkan empat pesawat F-16 ke wilayah perairan di Kepulauan Riau tersebut untuk patroli. Begitupun Tiongkok yang lebih dulu mengirim dua kapal Coast Guard ke perairan Natuna Utara.
Pengamat internasional dan Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana mengatakan, ada hal yang harus diluruskan mengenai Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) yang dipersoalkan tersebut. Hikmahanto mendengar banyak persepsi bahwa ZEE merupakan bagian dari kedaulatan negara. Sementara dirinya, punya pendapat lain.
"Sejumlah kejadian menunjukkan Coast Guard Tiongkok dan kapal-kapal nelayan Tiongkok memasuki wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Natuna Utara. Untuk diketahui keberadaan ZEE tidak berada di Laut Teritorial, melainkan berada di Laut Lepas (High Seas)," tuturnya dihubungi JawaPos.com, Rabu (8/1).
Hikmahanto menjelaskan, di Laut Lepas, tidak dikenal konsep kedaulatan negara. Maka dari itu, negara tidak boleh melakukan penegakan kedaulatan di sana.
Dalam konsep ZEE, maka sumber daya alam yang ada di dalamnya diperuntukkan secara eksklusif bagi negara pantai. Artinya, kata dia, yang dimaksud negara pantai bukan hanya Indonesia. Inilah yang disebut sebagai hak berdaulat atau sovereign right.
Hak berdaulat berbeda maknanya dari kedaulatan. Atas dasar itu, menurut Hikmahanto, apabila ingin menjaga perairan Natuna alias menjaga sovereign right, dia menyarankan ada lebih banyak nelayan Indonesia di sana ketimbang nelayan Tiongkok.
"(Masalah ZEE) ini kan bukan wilayah kedaulatan, tetapi hak berdaulat. Kalau hak berdaulat kan (artinya) diambil sumber daya alamnya. Jadi, banyak-banyaklah nelayan Indonesia mengambil sumber daya alam ini," terangnya.
Hikmahanto menduga, Tiongkok sangat percaya diri beraktivitas di Natuna Utara, karena memegang konsep hak berdaulat (sovereign right) tersebut. "Kalau versi Tiongkok ya dia tidak merasa salah. Ini namanya klaim tumpang tindih," pungkasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
