
Habibie bersama Fauzie Bowo saat ke pusara Ainun di TMP Kalibata, Jumat (27/5/2016). Saat ke makam, Habibie biasa menggunakan syal milik Ainun. (Muhamad Ali/Jawa Pos)
Pada Juni 2016, menjelang ulang tahun ke-80 Bacharudin Jusuf Habibie, koran Jawa Pos membuat liputan khusus tentangnya. Mulai dari masa kecilnya hingga remaja, saat memupuk cinta dan cita di Jerman, dan hari-harinya setelah istrinya, Ainun meninggal dunia. Artikel dari koran Jawa Pos tersebut kami unggah ke JawaPos.com untuk mengenang kembali, B.J Habibie yang wafat hari ini, Rabu (11/9).
Photo
Koran Jawa Pos edisi 25 Juni 2016 yang memuat liputan khusus terkait B.J Habibie
Waktu yang sudah menunjukkan pukul 09.15 membuat Habibie dan rombongan bergegas meninggalkan TMP Kalibata. Dia beranjak menuju Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, tempat papi dan maminya dimakamkan. Di sana, Habibie juga memanjatkan doa.
Jika sedang berada di Indonesia, setiap Jumat insinyur penerbangan itu selalu datang ke makam Ainun dan kedua orang tuanya. Saat sedang berada di luar kota pun, Habibie mengusahakan untuk kembali ke Jakarta pada Kamis karena keesokan harinya dia akan nyekar ke makam Ainun. Ketika tidak mengunjungi makam pun, doa-doa Habibie tidak pernah putus untuk Ainun.
Habibie berujar, doa adalah makanan bagi mereka-mereka yang sudah pindah ke dimensi lain. Doa mengandung kuantum energi yang bisa memberikan kekuatan. "Dengan berdoa, saya yakin saya kasih (mereka, Red) makan," ujarnya.
Dia percaya bahwa orang-orang yang sudah pergi terlebih dahulu tidak mati. Mereka hanya berpindah ke dimensi yang lebih sempurna. Pemikiran itu juga yang membuat Habibie yakin bahwa istrinya masih ada dan selalu mendampinginya. "Karena itu, saya tidak pernah merasa sendiri. Ainun masih ada," ucap Menristek di era Soeharto itu.
Habibie bercerita, dirinya dan Ainun berkomitmen tidak saling meninggalkan. Saat Ainun meninggal, papar Habibie, yang mati hanya hardware-nya. "Saya berpendapat jenazah ini hardware. Saya yakin super-intelligent software Ainun sudah di-download ke dalam diri saya," katanya sambil menunjuk dada.
Cinta Habibie memang begitu besar kepada Ainun. Kendati telah lama ditinggal Ainun, Habibie masih terus merasakan cinta yang sama. Bahkan lebih besar. Habibie mengaku sering tiba-tiba teriak, lalu menangis saat sedang membaca surah Yasin untuk Ainun. "Saya nangis. Nangis bener seperti anak kecil. Untuk mengatasi itu, saya baca Alquran," ungkapnya.
Saat Ainun meninggal, Habibie tumbang. Separo jiwanya telah pergi. Perempuan yang mendampinginya sudah tiada. Tidak ada lagi tempatnya untuk bermanja-manja. Tiada lagi yang memarahinya karena dia keras kepala.
Si genius merasa benar-benar bodoh karena tidak mengetahui bahwa istri yang dicintainya menderita kanker stadium lanjut. Dia bisa membuat pesawat terbang, kereta api, dan kapal laut. Dia juga dikenal dengan temuan-temuannya di bidang kedirgantaraan. "Tapi tidak mengetahui penyakit Ibu. Dia kesal dan menyesal soal itu," ungkap keponakan Habibie, Adrie Subono, kepada Jawa Pos.
Di sisi lain, Ainun pun tidak mau mengganggu konsentrasi suaminya yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Dia memilih untuk tidak memberi tahu Habibie perihal pernyakitnya itu. "Ibu selalu bilang dia fine-fine saja. Ibu juga kan sebenarnya dokter," tambah Adrie.
Dalam kesedihannya itu, Habibie harus bangkit. Dia tidak mau cintanya kepada Ainun yang sudah puluhan tahun dirajutnya dipisahkan maut. Tim dokter dari Jerman dan Indonesia menyarankan Habibie untuk menjalani terapi self-healing. Kondisi Habibie yang sedang down sangat rentan terserang gangguan emosional yang berdampak negatif pada sistem organ vital. Jika dibiarkan, bukan tak mungkin Habibie jatuh sakit.
Habibie kemudian memilih menulis sebagai terapi self-healing. Melalui tulisan, Habibie mengungkapkan semua kenangannya bersama Ainun. Mulai kali pertama bertemu hingga akhirnya Tuhan mengambil Ainun. Dua setengah bulan dihabiskan Habibie untuk menyelesaikan buku tersebut.
Adrie, yang terus mendampingi Habibie, mengatakan, dalam kondisi yang masih down, Habibie berusaha menulis. Hati yang terluka membuat Habibie kerap menitikkan air mata saat bercerita tentang Ainun melalui tulisan. "Dia menulis sambil menangis. Tapi, itulah obat di mana dia mencurahkan kerinduan dan rasa cintanya," cerita Adrie. Tuhan pun akhirnya menganugerahkan kesehatan kepada Habibie.
Kini Habibie telah berusia 80 tahun. Selama itu pula dirinya telah memberikan teladan tentang kerja keras, kesungguhan, dan cara terbaik mengagungkan cinta.
Selamat ulang tahun, Eyang Habibie...
Setelah Ainun Tiada di Sisi
Setiap Jumat, Habibie rutin berziarah ke makam Ainun. Selain melantunkan serangkaian doa, Habibie selalu membacakan puisi cinta berjudul Manunggal. Hari dan tanggal yang menjadi bagian dalam puisi itu selalu diubah.
Saat berziarah, Habibie tidak lupa mengalungkan tasbih dan syal peninggalan Ainun.
Syal tersebut tidak pernah dicuci dan selalu dibawa tidur.
Setiap pergi ke suatu daerah, pengawal Habibie selalu membawa serta foto-foto Ainun untuk ditata di kamar yang akan ditinggali Habibie.
Habibie masih sering memimpikan Ainun. Dia juga menangis seperti anak kecil ketika sedang merindukan istrinya itu.
Berdoa dan membaca Alquran adalah cara Habibie untuk melipur rindu pada Ainun.
Tidak ada foto lain kecuali potret Ainun, Tuti Marini (mami), dan foto berdua Ainun-Habibie di kamar tidur Habibie. (Bersambung)

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
