
Cawapres 02 Sandiaga uno saat mencium tangan cawapres 01 Maruf Amin usai debatr capres kemarin.
JawaPos.com - Debat perdana capres cawapres yang digelar pada Kamis, (17/01) lalu i Hotel Bidakara, Jakarta Selatan telah digelar. Adu 'hebat' pun terjadi antara kedua paslon. Masing-masing dengan jurus khasnya. Namun, diakhir itu banyak juga suara kritikan yang menilai acara tersebut kurang greget dan jauh dari adu gagasan.
Pihak yang paling bertanggung jawab atas kekecawaan publik pada debat capres dan cawapres tentu saja ada di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ketua KPU RI Arief Budiman mengakui lembaganya menerima banyak kritikan dan saran usai penyelenggaraan debat bertema politik, Hukum dan HAM.
“Pasti tidak mampu memuaskan semuanya, dari sisi penyelenggara maupun dari sisi kandidat,” kata Arief, di Kantor KPU, Jakarta Pusat, Jumat (18/1).
Terutama soal kisi-kisi yang lebih dulu diberikan kepada dua paslon sepekan sebelum pelaksanaan. Sebanyak 20 soal yang telah disusun tim panelis diberikan kepada paslon, meskipun saat debat paslon tak mengetahui pertanyaan mana yang akan ditanyakan moderator.
Kepada JawaPos.com, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi ( Perludem) Titi Anggraeni menuturkan, akibat kisi-kisi pertanyaan itu, kedua paslon terpaku pada kertas sontekan yang mereka letakkan di meja masing-masing.
Bahkan, kedua paslon terlalu terpaku pada jawaban yang telah mereka hafalkan sebelum debat dimulai. Apalagi anehnya, ketika moderator bilang amplopnya disegel, padahal mereka [paslon] sudah tahu apa pertanyaannya.
"Semakin ironi lagi, ketika sudah dapat pertanyaannya, jawabnya masih baca,” kata Titi.Menurut Titi waktu yang singkat ini juga menjadi persoalan bagi paslon untuk menyampaikan program-program terkait tema-tema yang dianggap krusial itu. Empat tema itu terlalu besar untuk waktu 90 menit itu. Akhirnya mereka seperti marathon.
"Serba tergesa-gesa, alih-alih bisa mengkristalisasi persoalan, dua paslon justru lebih memilih ke zona aman,” kata Titi.
Bahkan, The Sydney Morning Herald dalam analisanyta menyebut, kedua calon presiden dan calon wakil presiden tampak seperti robot dan jawaban yang diberikan sepertinya sangat diperhitungkan karena tidak mau mengambil risiko.
Berkaitan dengan itu, komentator harian itu juga mengkritik sistem debat, di mana para calon sudah mendapatkan kisi-kisi semua pertanyaan seminggu sebelum debat, sehingga sudah dapat mempersiapkan diri. Namun demikian, rakyat yang menonton debat tidak mendapat informasi lebih banyak dari jawaban para calon.
Sydney Morning Herald menyimpulkan, Debat berakhir tanpa adanya gagasan besar yang baru dari para calon, dan hanya ada sedikit informasi baru tentang kebijakan yang mungkin akan mereka tempuh, jika menang.
Oleh sebab itu juga, kedua calon presiden tidak mendapat inspirasi untuk memberikan komentar positif tentang saingannya, ketika diberi kesempatan. Harian Australia itu juga menyinggung, ini mungkin kesempatan terakhir bagi Prabowo Subianto untuk bisa meraih kursi presiden.
Media Singapura, The Straits Times menilai, isu-isu yang jadi topik utama debat adalah isu-isu penting yang tepat untuk diangkat. Tetapi sayangnya kedua kubu tidak memberikan rincian lebih banyak ketika menjawab pertanyaan, sebaliknya hanya memberikan jawaban secara umum.
Sydney Morning Heral juga mengomentari Ma'ruf Amin yang katanya perlu waktu hampir satu jam sebelum mulai berbicara untuk menjawab pertanyaan dari panelis.
Namun, Komisioner KPU Wahyu Setiawan mengklaim, debat Pilpres putaran pertama lebih hidup dibanding pada Pilpres 2014 lalu. Menurut Wahyu, dalam debat perdana kemarin sudah ada dialektika antar dua paslon capres-cawapres.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
