Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Juni 2017 | 16.35 WIB

Di Balik Buku Keren: Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran

Buku karya Wakil Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, Bung Karno - Image

Buku karya Wakil Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, Bung Karno

JawaPos.com - Sosok proklamator Bung Karno begitu terpatri di hati Wakil Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin. Di tengah kondisi negara yang sedang diuji dengan upaya pembenturan ideologi kebangsaan dan keislaman seperti saat ini, orang nomor dua di pemerintahan kabupaten Trenggalek itu pun akhirnya meluncurkan buku karyanya:  Bung Karno “Menerjemahkan” Al Quran.



Buku karya wakil bupati muda itu pun mendapatkan banyak apresiasi. Salah satunya dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj. “Buku ini lahir pada waktu yang tepat untuk menjelaskan kepada rakyat Indonesia bahwa asas-asas bangsa ini, terutama Pancasila selaras dan koheren dengan pesan-pesan Al-Quran dan nilai-nilai Islam,” kata Said.



Menurut Said, dalam bukunya ini, Nur Arifin mengupas tuntas pemikiran Bung Karno tentang keindonesiaan. Tapi, lanjut dia, buku ini berbeda dengan buku tentang Bung Karno yang lainnya. Kata Said, buku ini benar-benar menggunakan perspektif tafsir Al Quran. 



Secara khusus buku ini memotret pemikiran Bung Karno tentang kebangsaan dan keislaman dalam bingkai ayat-ayat Al Quran. Ini kekhasan yang jarang kita temukan dalam buku-buku tentang pemikiran Bung Karno yang lainnya. 



Buku ini menyuguhkan tiga bagian dari diri Bung Karno. Yakni, karakter religiusnya, pemikiran keislamannya, dan aksi “jalan” Islamnya. 



Selama ini, potret religusitas Bung Karno menjadi sisi yang tidak sering diperhatikan dalam bingkai sejarah Indonesia. Bung Karno lebih dikesankan sangat nasionalis ketimbang sangat Islamis. Padahal, dari berbagai adegan sejarah hidupnya, jelas terlihat betapa Islamisnya Bung Karno. 



Ada banyak peristiwa maupun tindakan Bung Karno yang menunjukkan bahwa ia sosok yang sangat menekankan aspek religiusitas. Dalam diri Bung Karno, antara nasionalisme dan religiusitas menyatu tanpa ada sekat. Ia sosok yang melampui (beyond) dikotomi keduanya. Bung Karno figur yang nasionalis sekaligus religius. Di bab awal buku ini, pembaca dapat melihat dengan jelas potret religiusitas Bung Karno. 



Pemikiran Bung Karno tentang keislaman juga mendapat perhatian Nur Arifin. Pria yang menjadi wakil bupati di usia 25 tahun itu menyuguhkan tafsir Bung Karno atas Al Quran. 



Hal itu disuguhkan secara detail pandangan-pandangan Bung Karno tentang keislaman dan keindonesia hasil pembacaannya terhadap ayat-ayat Al Quran. Diantaranya tafsir bung Karo atas surat Al Hujurat. Bung Karno sangat menekankan soal ijtihad. Menurutnya, ijtihad adalah apinya Islam. Bara Islam bisa terus terjaga selama spirit energi ijtihad tetap dijaga. 



Matinya ijtihad berarti matinya progresifitas dan dinamisitas Islam. Bagi Bung Karno, Islam bisa mengejar kemajuan saintifik dan teknologi jika tafsir atas ayat-ayat Al Quran dihidupkan dengan spirit ijtihad. Al Quran mencakup semua disiplin ilmu. Sangat disayangkan jika harta karun keilmuan di dalamnya tak bisa ditemukan oleh para penafsirnya. Bagi Bung Karno, peta jalan untuk sampai kesana dengan menggunakan spirit ijtihad.



Nur Arifin juga tak ketinggalan mengupas jalan Islam Bung Karno. Ia membeberkan histori religiusitas Bung Karno. Selain itu, pembaca diajak menapaktilasi penjelajahan Bung Karno dalam mencari, menemukan, dan memformulasikan Islam yang sesuai dengan keindonesiaan. Dipaparkan secara gamblang kekaguman Bung Karno akan sosok Nabi Muhammad SAW yang dinilainya sebagai simbol revolusi. 



Kekaguman Bung Karno pada Nabi SAW mencapai puncak hingga melihat revolusi Indonesia sebagai revolusi Muhammad SAW. Selain itu juga diurai perjalanan ruhani Bung Karno yang sangat menyentuh. 



Buku ini dengan tegas menampilkan sosok Bung Karno yang nasionalis sekaligus religius. Pada diri dan pemikiran Bung Karno terkonvergensi keindonesiaan sekaligus keislaman. Bagi Bung Karno, bertuhan itu sekaligus berindonesia, dan berindonesia itu sekaligus berislam. 



Jadi, tak ada pengkotak-kotakan atas semua itu. Semuanya bersinergi membentuk sebuah filosofi, visi, dan nilai-nilai bersama. Semua nilai itu tercakup dalam Pancasila. 



Mantan Ketua MK Mahfud MD mengatakan, buku ini penting untuk menjelaskan kepada publik tentang keislaman gagasan-gagasan Bung Karno. “Sebab masih banyak yang salah paham seakan-akan Bung Karno adalah tokoh yang sangat sekular yang tak peduli pada agama. Padahal, pandangan dan langkah-langkahnya sangat agamis,” kata Mahfud.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore