Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Februari 2017 | 16.55 WIB

WNI Dideportasi dari Turki Terus Bertambah

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus melakukan identifikasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang dideportasi dari negara Turki. Kepala BNPT Suhardi Alius mengatakan, bersama Kementerian Sosial (Kemensos), pihaknya mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan hingga proses pemulangan ke daerah asal masing-masing.

”Kami siapkan semua hingga bagaimana menerima mereka, sehingga secara psikologis mereka sudah siap dideportasi dan siap kembali ke masyarakat,” ujar Suhardi usai meninjau para WNI yang dideportasi dari Turki di RSPA Bambu Apus, Jakarta, Senin (6/2).

Dia menuturkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Agar nantinya kepala daerah bisa turut dalam proses pemulangan mereka. Selama tinggal di rumah singgah, mereka mendapatkan pelayanan dengan baik.

”Ini kemungkinan masih banyak, sekarang saja sudah dideportasi 75 WNI. Sementara yang lain tengah berproses. Apalagi di negara Suriah tengah konflik, dan pemerintah Turki tidak mengizinkan masuk. Kemungkinan akan banyak deportasi lagi,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, sebagian besar WNI yang dideportasi berasal dari Jawa Timur. Hanya saja, menurutnya pihaknya masih terus melakukan identifikasi. Selama dua pekan, dikatakan Suhardi BNPT dibantu kalangan ulama dan dewan masjid membantu memberikan pencerahan.

”Kami juga muatkan program deradikalisasi agar mereka bisa berinteraksi lagi dengan masyarakat. Karena keinginan untuk hijrah mereka sangat kuat dan ini yang akan kami ingatkan,” kata Suhardi.

Lebih jauh Suhardi menerangkan, dari 75 WNI tersebut terdiri atas 41 orang dewasa dan 34 anak-anak. Mereka dalam beberapa keluarga, dan sudah hijrah ke Turki dalam waktu yang bervariatif. ”Anak-anak ada yang berumur 3 minggu. Dan hubungan mereka keluarga, ada ayah, ibu dan anak,” ucapnya.

Untuk mendukung proses pendampingan anak, BNPT mendatangkan ahli psikologi. Tujuannya untuk mereduksi idiologi, sehingga mereka berhasil meraih prestasi. Karena, menurut Suhardi pemahaman idiologi ini sudah lama berproses. ”Kita akan siapkan anak-anak dengan meluruskan pemahaman yang menyimpang ini,” katanya.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menegaskan, latar belakang WNI yang dideportasi memiliki latar belakang pendidikan yang educated. Dari 41 orang dewasa terdiri atas 24 perempuan dan 17 orang laki-laki. ”Status keluarga mereka itu ada yang kakek, nenek, anak dan cucu, ada sumai istri bahkan ada yang diajak temannya,” katanya.

Saat ini, menurutnya, Kemensos tengah mengkomunikasikan dengan daerah asal mereka. Supaya proses reintegrasi sosial berjalan dengan baik. Sehingga, mereka bisa diterima oleh masyarakat. Dia berharap, ada peran pemerintah daerah (pemda) dalam proses penjemputan. ”Tapi mereka tidak ingin ramai-ramai, khawatir mereka distigma,” ucapnya.

Lebih jauh Khofifah mengungkapkan, pada proses pendampingan terhadap anak diprioritaskan bagaimana masa depan mereka. Karena, dengan proses psikososial tersebut harapan anak-anak akan tercapai, tentu didukung oleh pendidikan yang sesuai. ”Format membangun kesepahaman juga kita siapkan dengan orangtua. Tapi untuk anak-anak siapkan format psikoterapi yang biasa kami lakukan,” katanya. (nas/yuz/JPG)

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore