Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 September 2019 | 19.23 WIB

Melukai Akal Sehat

Sakdiyah Ma - Image

Sakdiyah Ma

TIDAK ada yang lebih melukai akal sehat dan kemanusiaan selain kemunculan blackface dalam tayangan komedi televisi di tengah bangsa yang sedang krisis rasisme.

Entah karena ketidaktahuan, ketidakpedulian, atau kehabisan amunisi kreatif, televisi kita sekali lagi secara vulgar menampilkan bahan tertawaan diskriminatif berusia lebih dari 200 tahun ini.

Pada Selasa lalu (10/9), sekitar pukul 8 malam, Opera Van Java, sebuah acara komedi televisi yang ditayangkan stasiun Trans 7, menghadirkan sebuah segmen yang di dalamnya bercerita tentang kontes pasangan muda-mudi berbakat. Tiga pasangan bersaing dalam kontes tersebut.

Pasangan yang pertama muncul dari balik layar adalah Parto dan Rina Nose yang digambarkan sebagai pasangan yang mengaku paling serasi dan harmonis meskipun kenyataannya penuh pertengkaran. Penonton tertawa secukupnya.

Pasangan selanjutnya adalah pasangan Azis Gagap dan seorang bintang tamu perempuan. Pasangan ini mendapat tepukan meriah dan tawa gemuruh penonton. Mengapa demikian? Sebab, Azis Gagap tampil dengan tubuh sepenuhnya diwarnai hitam legam dengan bibir diwarnai kekuningan dan rambut palsu pirang.

Seorang blackface. Tawa semakin gemuruh ketika melihat pasangan Azis Gagap, seorang perempuan yang dianggap oleh arus utama kebudayaan sebagai perempuan cantik.

Bintang tamu perempuan: ”Kenapa, kok pada ketawa?” ”Ganteng, kan?” ”Ganteng banget, putih banget cowok aku.”

Setelah beberapa obrolan lain, pembawa acara kontes bertanya kepada bintang tamu perempuan tersebut, ”Yang membuat kamu jatuh cinta pada benda ini apa?”

Pembawa acara melanjutkan, ”Akhirnya, mbak yang cantik ini jatuh cinta pada seonggok pria ini.”

Salah seorang pemeran lain menimpali, ”Bukan seonggok, tapi segumpal.”

Tawa penonton kembali pecah.

Tidak perlu kecerdasan khusus untuk memahami betapa tidak manusiawinya adegan itu. Tidak hanya menampilkan blackface sebagai bahan olok-olok, tetapi program tersebut menggunakan penyebutan yang membatalkan kemanusiaan karakter berkulit hitam itu secara keseluruhan. Sebuah praktik primitif yang seharusnya tidak ditampilkan dengan alasan apa pun.

Apa itu blackface? Blackface adalah sebuah istilah dalam dunia hiburan Amerika Serikat (AS) di mana aktor atau aktris kulit putih menggunakan rias wajah dan tubuh yang membuat kulit mereka jadi terlihat hitam dan legam. Karakter itu kemudian digunakan untuk menggambarkan warga kulit hitam AS sebagai orang yang konyol, cenderung bodoh, dan pemalas.

Karakter itu kali pertama muncul sekitar 200 tahun lalu di AS dalam bentuk karakter teater bernama Jim Crow. Istilah Jim Crow ini kemudian digunakan untuk merujuk pada hukum dan sistem hukum yang memosisikan warga Afrika Amerika sebagai warga negara kelas dua dengan segenap aturan diskriminatifnya.

Pertanyaan berikutnya, mengapa blackface ini muncul di dunia hiburan Indonesia?

Kemunculan blackface di televisi nasional seperti yang dikutip di atas bukanlah yang pertama. Pada sebuah episode Ini Talk Show NET. TV, Nunung ditampilkan sebagai rapper kulit hitam Missy Elliot.

Indonesia adalah negara yang sangat membanggakan asas Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Indonesia juga sering dirujuk sebagai negara yang mengedepankan kerukunan di atas segala perbedaan.

Sejarah Indonesia pun jauh berbeda dengan sejarah AS yang diwarnai rasisme institusional sejak berdirinya negara tersebut hingga kini. Jika demikian, mengapa dalam ”kesadaran” tim kreatif televisi, karakter berkulit hitam dianggap layak ditampilkan dan ditertawakan? Dan apakah hal ini hanya terjadi di televisi?

Mari kita simak lawakan berikut ini dan silakan periksa apakah Anda sanggup tertawa. Alkisah, dua pemuda dari sebuah desa di Jawa merantau ke Jakarta. Mereka sedang berusaha mencari pekerjaan.

Di sebuah kantor yang akan mereka kunjungi, tertulis ”OPEN” di pintu masuk. Pemuda 1 melarang pemuda 2 masuk ke kantor tersebut karena ada OPEN (oven/pemanggang) di balik pintu.

Pemuda 1 tidak percaya dan beranjak mendekati pintu ketika seorang kulit putih masuk dan sesaat kemudian keluarlah seorang kulit hitam. Pemuda 1 berkata kepada pemuda 2, ”Tuh, betul kan, OPEN!”

Saya tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar lawakan itu untuk kali pertama. Hingga saya menyadari bahwa yang membuat lawakan itu lucu bukan hanya keluguan kedua pemuda. Tapi, ”nasib sial” si kulit putih yang terpanggang menjadi hitam setelah masuk ke dalam OPEN.

Ketika bangsa kita makin terdidik dan kesadaran melawan segala bentuk diskriminasi meningkat, harapan pun menguat. Hingga suatu hari, saya terlibat dalam sebuah percakapan penuh kelakar di sebuah organisasi masyarakat sipil.

Salah seorang peserta diskusi bercerita tentang kisah cinta karyawannya yang berdarah Sunda dengan anak magang asal Papua. Tanpa berpikir dua kali, dalam sebuah forum diskusi tentang hak asasi manusia dan kemanusiaan itu, peserta tersebut mengutip apa yang dia sampaikan kepada karyawannya, ”Kamu itu cantik, putih, ternyata sukanya sama yang hitam,” disambut gelak tawa peserta forum.

Benang merah ketiga ”kelucuan” dalam tiga konteks yang berbeda tersebut adalah putih itu cantik, baik, indah, sedangkan hitam itu buruk, bodoh, sial, layak dijadikan bahan tertawaan. Sebuah logika kolonial yang juga menjangkiti kita, khususnya kita yang berasal dari Pulau Jawa sebagai produsen budaya pop dan budaya arus utama terdepan.

Hanya karena suatu hal itu lucu, bukan berarti ia benar. Karena kelucuan membutuhkan kecerdasan, empati, dan kesadaran mengangkat yang lemah dan terpinggir, bukan menginjak yang telah jatuh. Bukankah juga sebuah kelucuan ketika putih yang dianggap superior dan suci itu adalah warna tisu toilet dan popok alas kotoran bayi kita?

Maka, ketika kita bertanya mengapa berbagai insiden rasial terjadi di Indonesia yang ”rukun” ini, diakui atau tidak, kita sesungguhnya rasis sejak dalam pikiran. (*)

*) Komika, Aktivis Perempuan, BBC 100 Women 2018

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore