
Tangkapan layar Staf Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Muhammad Suaib Tahir saat menjadi narasumber dalam webinar nasional Pengurus Besar Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia (Ikami) Sulawesi Selatan bertajuk “Moderasi Beragam
JawaPos.com - Staf Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Muhammad Suaib Tahir mengatakan moderasi beragama bukan merupakan isu baru ataupun upaya-upaya dari negara-negara Barat untuk menghancurkan Islam.
’’Kalau ada yang mengatakan moderasi beragama adalah isu baru atau upaya-upaya kelompok ataupun negara-negara Barat untuk menghancurkan Islam, saya pikir tidak demikian,” kata Suaib Tahir saat menjadi narasumber dalam webinar nasional Pengurus Besar Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia (Ikami) Sulawesi Selatan di Jakarta, Sabtu (12/3).
Sebaliknya, moderasi beragama mulai digaungkan di kalangan para nabi dan sahabat serta para pengikutnya sejak awal kemunculan Islam, bahkan dijelaskan pula dalam Al Qur'an, katanya dalam webinar bertajuk “Moderasi Beragama dan Kebangsaan bagi Kalangan Milenial” yang dipantau via zoom tersebut.
Suaib menyampaikan moderasi agama mulai terpinggirkan pada beberapa abad setelah kemunculan Islam karena terjadi pergulatan politik di dalam negara-negara Islam.
Walaupun begitu, lanjut dia, memasuki abad ke-20, moderasi agama yang mengajarkan manusia untuk mengamalkan agama secara tidak ekstrem kembali digaungkan oleh sejumlah tokoh agama atau ulama, seperti Mahmud Syaltut dan Muhammad Abu Zahrah. ’’Di era sekarang, ada Yusuf Qhardawi. Sebelumnya, ada Wahbah Zuhaili. Mereka ini adalah tokoh-tokoh yang menyuarakan pentingnya moderasi beragama,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Suaib menegaskan konsep moderasi beragama yang kembali digaungkan saat ini merupakan lanjutan dari ajaran sebelumnya. Bahkan pada beberapa waktu terakhir, kata dia, moderasi beragama semakin bernilai penting untuk menghadapi kemunculan pemikiran yang ekstrem atau radikal dari sejumlah pihak.
Ia juga mengemukakan beberapa penyebab moderasi beragama harus diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Pertama, kata dia, agama sesungguhnya bertujuan untuk melindungi dan mengamankan kehidupan manusia serta menciptakan perdamaian. Dengan demikian, agama bukan merupakan alat intimidasi, melainkan alat pemersatu manusia.
’’Jadi, tujuan agama itu sejak awal adalah menciptakan perdamaian, mewujudkan keadilan, dan mencegah terjadi kemungkaran serta intimidasi antara manusia satu dan lain. Inilah pentingnya bagi kita memahami moderasi beragama,” lanjutnya.
Kemudian, Suaib mengatakan bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, ras, agama, dan budaya mutlak membutuhkan moderasi beragama untuk menghindari terjadinya benturan antargolongan di tengah masyarakat yang beragam tersebut.
’’Di Indonesia dengan masyarakat yang terdiri atas beragam suku, agama, dan budaya itu mutlak membutuhkan moderasi beragama. Kalau tidak, benturan di tengah masyarakat akan terjadi. Ada Pancasila yang menjadi landasan kita bersama dalam beragama, berbangsa, dan bernegara. Itu harus menjadi patokan,” ujarnya. (*)

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
