
Photo
JawaPos.com - Angka kasus baru Covid-19 yang terus naik di atas 6 ribuan orang setiap hari berbanding lurus dengan jumlah ketersediaan ruang perawatan di rumah sakit. Tak hanya ruang isolasi dan ICU, bahkan Instalasi Gawat Darurat (IGD) pun antre.
Salah seorang warga yang berdomisili di Jakarta Barat, bahkan sampai kesulitan mencari rumah sakit untuk orang tua dan adiknya yang dinyatakan positif Covid-19. Kejadian berawal ketika pemuda yang tak mau disebutkan namanya itu mengetahui ibunya sudah merasakan gejala demam sejak tanggal 21-22 Desember hingga 26 Desember.
Sejak itu, beruntung sang ibunda bisa mendapatkan kamar di rumah sakit daerah Cibinong, Kabupaten Bogor, atas bantuan kantornya. Sebab jika harus menelepon secara resmi ke pusat bantuan Covid-19, dia yakin tak akan semudah itu mendapatkan kamar rumah sakit.
Baca Juga: Sebelas Rumah Sakit Rujukan Covid-19 di Surabaya Penuh
"Maka biarlah agak jauh di Cibinong rumah sakitnya yang penting Mama saya dapat kamar," katanya kepada JawaPos.com, Minggu (3/1).
Ternyata setelah itu, dia yang terdiri dari 4 orang di dalam anggota keluarga, melakukan swab PCR setelah sang ibunda dinyatakan positif Covid-19. Semuanya dinyatakan positif yakni ibu, ayah, dan adiknya.
"Semua positif kecuali saya negatif. Maka kami langsung isolasi mandiri di rumah, coba untuk ayah dan adik saya," katanya.
Namun lama kelamaan, kondisi ayahnya drop setelah 4 hari isolasi mandiri. Selanjutnya, untuk mengantisipasi, dia langsung membawa adik dan ayahnya berputar keliling rumah sakit untuk mencari bantuan medis.
"Kami langsung cari RS dari tanggal 27 Desember sampai tanggal 31 Desember kondisi Papa sudah sangat turun drop banget. Kami mulai lakukan manual ke IGD RS," katanya.
Namun tak semudah itu perjuangannya. Dia dan keluarganya harus pindah-pindah keliling rumah sakit karena kamar sudah penuh.
"Dari tanggal 1 Januari itu cari rumah sakit. Pindah-pindah RS panik enggak panik sih. Pindah 3 kali. Datang ke IGD, observasi minim dilakukan seperti pemeriksaan dasar misalnya cek tensi, saturasi, administrasi," ungkapnya.
Pihak keluarga sempat menuju ke salah satu rumah sakit di Jakarta Selatan namun kamar sudah penuh. Bahkan di IGD pun antre 40 pasien.
"Di IGD pun penuh. Antreannya sampai 40 pasien. Sementara saturasi ayah saya sudah turun di 80," tuturnya.
Dari hasil perjuangan, sang adik akhirnya bisa dirawat di ruang isolasi biasa di rumah sakit di Rawamangun, Jakarta Timur. Sedangkan sang ayah akhirnya mendapatkan pertolongan di ruang ICU-HCU di rumah sakit di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
"Ya jadinya upaya kami keliling rumah sakit itu memang enggak mudah, karena pihak rumah sakit juga sudah berusaha mencarikan ke tiap rumah sakit yang masih tersedia kamar khusus untuk kondisi ayah saya yang sudah cukup berat. Akhirnya untung sudah dapat kamar saat ini meskipun semuanya dirawat terpisah. Ibu saya di Cibinong, adik saya di Rawamangun, dan ayah saya di Cempaka Putih. Karena cari rumah sakit sulit," tutupnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://youtu.be/e48GL4c8nwI

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
