Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Juni 2023 | 02.28 WIB

Sediakan Akses Internet Layanan Pubik, Satelit SATRIA 1 Siap Mengorbit

Plt Menteri Mahfud MD beserta jajaran saat mengumumkan rencana peluncuran Satelit Indonesia Raya (SATRIA) - 1 di Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta Pusat, Selasa (13/6). (Istimewa). - Image

Plt Menteri Mahfud MD beserta jajaran saat mengumumkan rencana peluncuran Satelit Indonesia Raya (SATRIA) - 1 di Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta Pusat, Selasa (13/6). (Istimewa).

JawaPos.com - Pelaksana Tugas Menteri Komunikasi dan Informatika, Mahfud MD, mengumumkan rencana peluncuran Satelit Indonesia Raya (SATRIA-1). Peluncuran satelit internet untuk memenuhi kebutuhan akses layanan publik itu dijadwalkan berlangsung dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, pada tanggal 18 Juni 2023 pukul 18:00 waktu setempat atau pukul 05:00 pagi tanggal 19 Juni 2023 Waktu Indonesia Barat.

“Untuk pemerataan infrastruktur digital di pusat-pusat layanan publik di seluruh Indonesia, Pemerintah dengan bangga mengumumkan peluncuran Satelit Republik Indonesia yang pertama, SATRIA-1. Satelit akan ditempatkan pada slot orbit 146 Bujur Timur,” jelas Mahfud MD di Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta Pusat, Selasa (13/6).

SATRIA-1 merupakan bagian daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 56 Tahun 2018 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Menurut Mahfud peluncuran SATRIA 1 merupakan salah satu langkah besar untuk mendukung pemerintahan digital.

"Akses internet yang disediakan oleh SATRIA 1 akan memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat di lokasi layanan publik yang belum memiliki akses atau mengalami kualitas internet yang belum memadai. Prioritas utama penerima akses internet dari SATRIA 1 adalah sektor pendidikan, fasilitas layanan kesehatan, kantor pemerintah daerah, serta TNI dan Polri,” jelasnya.

SATRIA -1 akan menjadi yang terbesar di Asia dan nomor lima di dunia dari sisi kapasitas, untuk kelas di atas 100 Gbps. Kapasitas yang besar ini diperuntukkan untuk mengatasi kesenjangan digital di wilayah-wilayah pelosok terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

"Dengan kapasitas sebesar 150 Gbps, SATRIA 1 akan merupakan satelit internet dengan kapasitas terbesar di Asia. SATRIA 1 akan memanfaatkan konsep frequency reuse untuk efisiensi penggunaan frekuensi dan peningkatan kapasitas bandwidth dibandingkan dengan teknologi konvensional," tutur Pelaksana Tugas Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Kominfo Arief Tri Hardiyanto.

Arief menambahkan, SATRIA 1 merupakan satelit multifungsi berteknologi Very High Throughput Satellite (VHTS) dengan frekuensi Ka-Band. Kapasitas internet yang disediakan bisa mencapai 150 Gbps.

SATRIA-1 mampu menjangkau daerah terpencil atau terisolasi dengan biaya layanan yang efisien dan waktu yang lebih cepat dibandingkan teknologi teresterial.

“Kominfo juga sedang melakukan persiapan pengadaan Remote Terminal Ground Segment (RTGS). Diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan kapasitas internet dari SATRIA 1 secara bertahap mulai bulan Januari 2024,” tuturnya.

Sebagai informasi, proyek SATRIA1 merupakan proyek dengan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Badan Layanan Umum BAKTI Kominfo selaku Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK) telah melaksanakan proses pelelangan pengadaan dengan menetapkan Konsorsium PSN sebagai pemenang lelang pada 26 April 2019.

Selanjutnya pemenang lelang yaitu Konsorsisum PSN mendirikan Badan Usaha Pelaksana (BUP) dengan nama PT Satelit Nusantara Tiga (SNT). Direktur Utama PT SNT, Adi Rahman Adiwoso menyampaikan, SATRIA 1 memiliki 11 stasiun bumi atau Gateway yang tersebar di berbagai lokasi strategis di Indonesia, termasuk Cikarang, Batam, Banjarmasin, Tarakan, Pontianak, Kupang, Ambon, Manado, Manokwari, Timika, dan Jayapura.

"Gateway Cikarang akan menjadi lokasi Stasiun Pusat Pengendali Satelit Primer dan Network Operation Control," terang Adi.

Setelah peluncuran, SATRIA 1 akan melakukan Electric Orbit Raising (EOR) selama sekitar 145 hari sejak pemisahan satelit dari kendaraan peluncurnya hingga tiba di posisi orbit 146 Bujur Timur. Di posisi orbit tersebut, satelit akan menjalani serangkaian tes, seperti In Orbit Testing (IOT), In-Orbit Acceptance Review (IOAR), dan End-to-End Test (E2E Test), untuk memastikan kinerja satelit yang optimal.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore