Pos Lintas Batas Long Nawang, Malinau, Kalimantan Utara. BAYU PUTRA/JawaPos.com
JawaPos.com - Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, menyoroti wilayah perbatasan negara dengan jarak yang berlapis, bukan hanya jarak geografis, tetapi juga jarak antara warga dan negara. Menurutnya, di kawasan perbatasan, kehadiran negara tidak diukur dari pidato atau simbol proyek, melainkan dari terpenuhinya kebutuhan dasar yang menentukan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Azis menyoroti kondisi wilayah Papua Selatan yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini di darat dan Australia di laut sebagai cermin nyata bagaimana negara diuji di titik terluarnya.
"Di kawasan ini, persoalan akses jalan, listrik, pendidikan, kesehatan, hingga kehadiran aparat negara masih menjadi tantangan yang dirasakan langsung oleh warga," kata Azis kepada wartawan, Jumat (6/2).
Azis menilai, Indonesia sebenarnya telah memiliki dasar hukum yang kuat. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara secara tegas menempatkan kawasan perbatasan sebagai ruang strategis yang menyangkut kedaulatan, kepastian hukum, dan kesejahteraan rakyat.
"Namun, regulasi yang kuat tersebut belum sepenuhnya terwujud dalam praktik di lapangan," ucapnya.
Anggota Panja Perbatasan Negara itu menyatakan, pembentukan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) sebagai lembaga lintas sektor dinilai sudah tepat secara konsep. Namun, ia melihat persoalan utama justru terletak pada kesenjangan antara visi regulasi dan realitas kehidupan masyarakat perbatasan. Negara dinilai memiliki kerangka kebijakan, tetapi belum mampu memastikan kebijakan itu bekerja secara nyata dan terintegrasi.
Ia menilai, kehadiran negara di perbatasan sejauh ini masih bersifat simbolik. Pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) seperti PLBN Sota di Merauke dan PLBN Yeteken di Boven Digoel memang berdiri megah, namun belum sepenuhnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan layanan publik yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
Azis menyoroti desain kelembagaan pengelolaan perbatasan yang menempatkan BNPP sebagai perumus kebijakan dan koordinator, sementara pelaksanaan teknis tersebar di berbagai kementerian dan lembaga sektoral. Kondisi ini, membuat tanggung jawab besar tidak diiringi kewenangan yang memadai untuk memastikan hasil pembangunan benar-benar terukur dan berkelanjutan.
"Dampak dari desain tersebut terlihat pada pembangunan perbatasan yang berjalan secara parsial. Infrastruktur dibangun tanpa diikuti penguatan sumber daya manusia, keamanan diperketat tanpa pembukaan ruang ekonomi legal, serta penegakan hukum yang belum disertai perlindungan sosial yang memadai," cetusnya.
Ia juga menekankan, bagi masyarakat selatan Papua, perbatasan bukan sekadar garis administratif, melainkan ruang hidup yang telah terbentuk jauh sebelum batas negara ditetapkan. Jalur laut Arafura, misalnya, menjadi nadi mobilitas manusia dan barang, namun hingga kini masih minim simpul layanan legal yang dapat melindungi sekaligus memberdayakan masyarakat.
Azis menekankan, kehadiran negara juga sangat ditentukan oleh konsistensi aparatur yang bertugas di perbatasan. Pola penugasan jangka pendek tanpa pemahaman konteks lokal membuat pelayanan publik sulit berkelanjutan dan kepercayaan masyarakat mudah terkikis.
"Dalam kondisi seperti ini, negara kerap dipersepsikan datang dan pergi, sementara warga tetap hidup dengan keterbatasan yang sama," tuturnya.
Lebih lanjut, Azis menegaskan kewenangan BNPP menjadi kebutuhan mendesak agar pengelolaan perbatasan tidak berhenti pada simbol dan dokumen perencanaan. Negara harus benar-benar hadir secara konsisten dan bekerja dari dekat.
"Di wilayah perbatasan, kedaulatan tidak cukup dinyatakan, tetapi harus dirasakan melalui pelayanan yang hadir setiap hari dalam kehidupan masyarakat," pungkasnya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
