Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 Desember 2025 | 19.23 WIB

Deforestasi Hutan Akibat Aktivitas Toba Pulp Lestari Diduga Sebabkan Banjir Sumatera? Ini Telaah Greenpeace

Warga Takengon berdiri di antara kayu-kayu yang terbawa banjir dan longsor. (Jurnalisa untuk JawaPos.com) - Image

Warga Takengon berdiri di antara kayu-kayu yang terbawa banjir dan longsor. (Jurnalisa untuk JawaPos.com)

JawaPos.com - Masyarakat Sumatera Utara (Sumut) dan sekitarnya tengah dihantam bencana banjir bandang dan longsor yang masif. Di tengah duka, banyak masyarakat yang menduga aktivitas PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL) berkontribusi sebagai penyebab banjir bandang yang melanda wilayah Sumut.

Muncul pertanyaan besar: Apa hubungan Hutan Sumut dengan Toba Pulp Lestari (INRU) dalam tragedi banjir Sumatera ini?

Kepala Kampanye Global untuk Hutan Indonesia dari Greenpeace Kiki Taufik menegaskan bahwa bencana ini bukan hanya soal hujan berlebih. "Faktor pertama betul bahwa ada cuaca ekstrim, ada tropical, apa namanya, siklon tropis senyar yang datang. Tetapi tentu kalau hanya cuaca ekstrim, hujan berlebih, tidak akan menimbulkan dampak banjir yang begitu masif seperti saat ini," ujar Kiki kepada JawaPos.com, Rabu (3/12).

Menurutnya, penyebab utama lainnya adalah deforestasi yang sangat masif di bagian hulu DAS. Kondisi hutan di Sumatera sangat mengkhawatirkan.

"Dari hasil analisis kita di Pulau Sumatera itu hampir semua daerah aliran sungai tutupan hutan alamnya itu kurang dari 25 persen. Artinya ini menunjukkan bahwa daerah aliran sungai di wilayah tersebut dalam kondisi kritis," katanya.

Hutan alam yang tersisa di Pulau Sumatera kini hanya sekitar 11,6 juta hektare, atau setara 24 persen dari total luas pulau. Angka ini jauh di bawah kewajiban 30 persen yang pernah diatur dalam UU Lingkungan, sebelum dihapus dalam UU Cipta Kerja.

Kiki Taufik juga menyoroti material yang terbawa banjir. Banjir bandang kali ini membawa material besar berupa kayu gelondongan. "Khusus untuk di wilayah banjir saat ini, kita lihat banyak sekali material-material berupa pohon, kayu-kayu tumbang. Kayu-kayu ini nggak mungkin hanya pohon tumbang karena kita bisa menyaksikan bukti bahwa kayu-kayu itu terpotong dengan baik. Jadi, ini pasti adalah adanya penebangan hutan," jelasnya.

Penebangan hutan ini berasal dari berbagai kegiatan ekstraktif, termasuk pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, Hutan Tanaman Industri (HTI) atau pulp and paper, Pertambangan, hingga proyek infrastruktur seperti PLTA Batang Toru.

Lantas, bagaimana kaitan PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL) dalam isu banjir Sumut?

Kiki menyebutkan bahwa TPL, yang beroperasi di Tapanuli, memiliki sejarah panjang dalam menimbulkan dampak lingkungan. Perusahaan ini bergerak di sektor kehutanan untuk kayu (pulp and paper) dengan status PBPH (Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan) untuk kayu.

"TPL ini posisinya ada di Tapanuli. Perusahaan ini sebenarnya sudah lebih dari 3 dekade bahkan ya, karena sebelumnya itu namanya PT Inti Indorayon Utama Tbk. Nah, perusahaan kayu ini, ini banyak sekali menimbulkan dampak lingkungan sebelum-sebelumnya," jelasnya.

Kiki Taufik mengakui bahwa kontribusi TPL dalam bencana banjir ini mungkin tidak berdiri sendiri. Perusahaan di sektor kelapa sawit, pertambangan dan lainnya disana juga ikut andil.

Namun perusahaan TPL memiliki riwayat konflik dengan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, penolakan terhadap TPL semakin sering terjadi, bahkan masyarakat mendesak agar perusahaan tersebut ditutup.

"Nah, kenapa ditutup? Karena memang banyak sekali ya, selain dari menimbulkan dampak lingkungan, termasuk banjir. Banjir ini ada kontribusi dari TPL, ada kontribusi dari perusahaan-perusahaan selain TPL tentu perusahaan-perusahaan sawit dan lainnya," katanya.

Dampak Banjir dan Longsor Sumatera

Dampak bencana alam dahsyat di tiga provinsi di Sumatera sangat memprihatinkan. Data terbaru dari Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin) BNPB yang dirilis pada Selasa (2/12) pukul 23.28 WIB menunjukkan peningkatan signifikan pada jumlah korban.

Total korban meninggal dunia akibat bencana ini kini mencapai 744 jiwa di tiga provinsi, dengan 551 orang lainnya masih dilaporkan hilang. Lebih dari 3,3 juta jiwa terdampak, memaksa 1,1 juta orang mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore