
Pemantaua dari udara wilayah terdampak banjir di Tapanuli, Provinsi Sumatera Utara (Sumut). (Istimewa)
JawaPos.com - Sampai pukul 10.27 WIB hari ini (3/12), jumlah korban meninggal dunia pasca bencana alam banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara (Sumut) sudah menyentuh angka 301 jiwa. Belakangan viral di media sosial terkait dengan aktivitas PT Toba Pulp Lestari yang disebut ikut menyebabkan terjadinya banjir bandang di Sumut.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumut ikut buka suara terkait dengan hal itu. Berdasar kajian awal yang dilakukan oleh organisasi tersebut, aktivitas Toba Pulp Lestari memang turut berpengaruh terhadap kerusakan ekosistem Batang Taro yang mencakup wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga.
”Bencana tersebut paling parah melanda wilayah-wilayah yang berada di Ekosistem Harangan Tapanuli atau Ekosistem Batang Toru, yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga,” tutur Direktur Eksekutif WALHI Sumut Rianda Purba dalam keterangannya kepada awak media.
Merujuk data yang disampaikan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dampak bencana alam yang paling parah di Sumut memang berada di sekitar Tapanuli dan Sibolga. Bahkan beberapa daerah sempat tidak dapat diakses melalui jalur darat akibat jalan penghubung putus total setelah dihantam longsor dan banjir bandang. Kondisi itu membuat situasi semakin rumit.
”Sejak Selasa (pekan lalu) sedikitnya 8 kabupaten dan kota di Sumatera Utara terdampak banjir bandang dan longsor, dengan Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah sebagai wilayah paling parah,” imbuhnya.
Dampak kerusakan itu bahkan sudah bertambah signifikan. Menurut WALHI Sumut, aktivitas 7 perusahaan menyebabkan bencana alam di Sumut berdampak sangat dahsyat. Termasuk diantaranya aktivitas Toba Pulp Lestari yang bergerak di bidang industri bubur kayu atau pulp. Menurut WALHI Sumut ada ratusan sampai ribuan hektare hutan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru yang kini berubah.
Padahal Ekosistem Harangan Tapanuli atau Ekosistem Batang Toru merupakan salah satu bentang hutan tropis esensial terakhir di Sumut. Secara administratif, 66,7 persen berada di Tapanuli Utara, 22,6 persen di Tapanuli Selatan, dan 10,7 persen di Tapanuli Tengah.
”Sebagai bagian dari Bukit Barisan, hutan tersebut menjadi sumber air utama, mencegah banjir dan erosi, serta menjadi pusat Daerah Aliran Sungai menuju wilayah hilir,” jelasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jadi Tersangka, Ini Kronologi Penipuan yang Dilakukan Ruben Onsu
Ruben Onsu Jadi Tersangka, Begini Reaksi Pengacara Minola Sebayang
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Alaves: Momentum Tuan Rumah Bangkit!
Respons Tantangan Wagub Kalbar, Gubernur Jabar KDM: Mohon Maaf, Tak Maksud Membandingkan
Ruben Onsu Ditetapkan Tersangka Kasus Penipuan dan Penggelapan, Dipanggil Minggu Depan
Prediksi Skor Marseille vs Strasbourg: Rekor 15 Laga Jadi Modal Les Phoceens
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Thailand vs Vietnam Leg 1 Final Piala AFF 2026: Gajah Perang Terlalu Perkasa di Rajama
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
