
Ilustrasi Warga melakukan proses sortir sampah botol plastik untuk didaur ulang. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), menilai pembangunan Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali berpotensi menggeser arah kebijakan pengelolaan sampah dari upaya pengurangan di sumber menuju pendekatan yang bergantung pada pembakaran sampah.
AZWI menilai pembangunan PSEL perlu dikaji secara menyeluruh agar tetap sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang menempatkan pengurangan sampah sebagai prioritas utama.
Eksekutif Nasional Wahana lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Wahyu Eka Styawan, mengatakan berdasarkan kajian Walhi teknologi PSEL kurang sesuai dengan karakteristik sampah Indonesia yang didominasi sampah organik basah dengan kadar air sekitar 40–60 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menurunkan efisiensi pembakaran dan meningkatkan risiko gangguan operasional. Selain itu, proyek PSEL berpotensi menimbulkan defisit operasional hingga Rp 945 miliar per tahun atau mencapai sekitar Rp 26,46 triliun selama 28 tahun masa kontrak, sehingga berisiko menjadi beban fiskal jangka panjang.
"Proyek PSEL ini sangat merugikan dibanding opsi pengurangan sampah di hulu seperti TPS3R dan Bank Sampah yang jauh lebih efisien. Kebutuhan belanja modalnya hanya Rp 353,64 miliar atau 11,78 persen dari nilai investasi PSEL yang mencapai Rp 3 triliun," ujar Wahyu dalam keterangan yang diterima, Sabtu (11/7).
Wahyu mengatakan, proyek tersebut juga memiliki risiko eksternalitas kesehatan akibat emisi dioksin dan furan yang bersifat karsinogenik bagi masyarakat sekitar.
Senior Advisor Nexus3 Foundation Yuyun Ismawati, mengatakan teknologi pembakaran sampah memiliki potensi menghasilkan persistent organic pollutants (POPs), logam berat, serta residu abu berbahaya berupa fly ash dan bottom ash (FABA).
Dimana, dari hasil pengujian terhadap residu FABA dari PLTSa Bantargebang yang dilakukan Nexus3 Foundation menunjukkan adanya paparan dioksin, furan, partikulat halus, serta logam berat yang membutuhkan pengelolaan ketat.
Senyawa berbahaya dari proses pembakaran tersebut dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, gangguan sistem endokrin, gangguan reproduksi, hingga gangguan perkembangan anak.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Matheus Lagoa Segera Bela Persebaya Surabaya, Cedera Betis Pulih, 30 Gol Jadi Modal
5 Cara Menemukan Jodoh Bagi Orang Introvert Yang Tidak Suka Bersosialisasi
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri
Prediksi Al Ittihad vs Al Ain di ACL Elite, Tuan Rumah Lebih Diunggulkan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022