Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 Juli 2026 | 18.00 WIB

AZWI Soroti Risiko Lingkungan dan Beban Fiskal Proyek PSEL di Bali

Ilustrasi Warga melakukan proses sortir sampah botol plastik untuk didaur ulang. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Ilustrasi Warga melakukan proses sortir sampah botol plastik untuk didaur ulang. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), menilai pembangunan Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bali berpotensi menggeser arah kebijakan pengelolaan sampah dari upaya pengurangan di sumber menuju pendekatan yang bergantung pada pembakaran sampah.

AZWI menilai pembangunan PSEL perlu dikaji secara menyeluruh agar tetap sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang menempatkan pengurangan sampah sebagai prioritas utama.

Eksekutif Nasional Wahana lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Wahyu Eka Styawan, mengatakan berdasarkan kajian Walhi teknologi PSEL kurang sesuai dengan karakteristik sampah Indonesia yang didominasi sampah organik basah dengan kadar air sekitar 40–60 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menurunkan efisiensi pembakaran dan meningkatkan risiko gangguan operasional. Selain itu, proyek PSEL berpotensi menimbulkan defisit operasional hingga Rp 945 miliar per tahun atau mencapai sekitar Rp 26,46 triliun selama 28 tahun masa kontrak, sehingga berisiko menjadi beban fiskal jangka panjang.

"Proyek PSEL ini sangat merugikan dibanding opsi pengurangan sampah di hulu seperti TPS3R dan Bank Sampah yang jauh lebih efisien. Kebutuhan belanja modalnya hanya Rp 353,64 miliar atau 11,78 persen dari nilai investasi PSEL yang mencapai Rp 3 triliun," ujar Wahyu dalam keterangan yang diterima, Sabtu (11/7).

Wahyu mengatakan, proyek tersebut juga memiliki risiko eksternalitas kesehatan akibat emisi dioksin dan furan yang bersifat karsinogenik bagi masyarakat sekitar.

Senior Advisor Nexus3 Foundation Yuyun Ismawati, mengatakan teknologi pembakaran sampah memiliki potensi menghasilkan persistent organic pollutants (POPs), logam berat, serta residu abu berbahaya berupa fly ash dan bottom ash (FABA).

Dimana, dari hasil pengujian terhadap residu FABA dari PLTSa Bantargebang yang dilakukan Nexus3 Foundation menunjukkan adanya paparan dioksin, furan, partikulat halus, serta logam berat yang membutuhkan pengelolaan ketat.

Senyawa berbahaya dari proses pembakaran tersebut dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, gangguan sistem endokrin, gangguan reproduksi, hingga gangguan perkembangan anak.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore